get app
inews
Aa Text
Read Next : Bursa Ketua Demokrat NTB Kian Panas, Gubernur Iqbal Didorong Kader Internal

Gubernur Lalu Muhamad Iqbal Hadapi Anomali Politik di Gerindra NTB, Demokrat Jadi Opsi Terkuat

Rabu, 01 Juli 2026 | 08:03 WIB
header img
Pengamat politik UIB Dr. Alfisahrin (kanan) menilai posisi politik Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal (kiri) di Partai Gerindra masih belum pasti. Ia menyebut Demokrat menjadi opsi paling realistis jika peluang memimpin Gerindra NTB tertutup. (Foto: istimewa)

"Iqbal harus dapat memastikan bahwa tiket untuk memimpin Gerindra NTB bisa dikunci, meski harus menggunakan seluruh sumber daya politik untuk meraih dukungan seluruh pengurus Gerindra NTB," ujarnya.

Meski demikian, Alfisahrin tetap menilai peluang Iqbal belum tertutup sepenuhnya. Ia menilai kekuatan politik Iqbal selama ini memang bertumpu pada Gerindra dan kemampuannya membangun koalisi telah terbukti saat Pilkada NTB.

"Kekuatan utama gravitasi politik Iqbal sejak awal memang ada pada Partai Gerindra. Berkaca dari Pilkada sebelumnya, kapasitas Iqbal sudah teruji, beliau mumpuni dan strateginya cerdas sehingga mampu merebut banyak dukungan partai-partai besar. Artinya peluang memimpin Gerindra NTB masih terbuka lebar," ungkapnya.

Namun, ia menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan DPP Gerindra karena mekanisme penentuan pimpinan partai masih sangat sentralistik.

"Kesulitan Iqbal mengambil alih pucuk pimpinan Gerindra NTB, hemat saya karena model pengambilan keputusan yang sentralistik bergantung di pusat," jelasnya.

Legitimasi Elektoral Belum Tentu Berbanding Lurus dengan Legitimasi Partai

Alfisahrin menilai fenomena yang dialami Iqbal memperlihatkan adanya paradoks dalam politik Indonesia. Menurutnya, seorang kepala daerah yang memperoleh legitimasi langsung dari rakyat belum tentu memiliki legitimasi yang sama kuat di dalam organisasi partai.

Ia mencontohkan pengalaman Anies Baswedan yang memiliki tingkat elektabilitas tinggi, namun tetap membutuhkan dukungan partai untuk dapat maju dalam kontestasi politik nasional.

"Di sini paradoks kekuasaan itu muncul. Seorang gubernur memiliki legitimasi langsung dari rakyat, tetapi belum tentu memiliki legitimasi yang linear dengan partai sebagai organisasi. Dalam budaya politik Indonesia modern, legitimasi organisasi sering kali lebih menentukan keberlanjutan karier dibanding legitimasi elektoral semata," katanya.

Demokrat Dinilai Menjadi Alternatif Terbaik

Jika peluang memimpin Gerindra benar-benar tertutup, Alfisahrin menyebut terdapat beberapa opsi politik yang dapat dipertimbangkan Iqbal.

Pilihan pertama adalah tetap bertahan sebagai kader Gerindra demi menjaga loyalitas politik.

"Jangan sampai Iqbal menunggu terlalu lama sekadar menangkap sinyal dukungan pusat. Sementara momentum dan dinamika politik terus bergulir. Perlu ada negosiasi dan komunikasi politik yang intens dengan DPP Gerindra," tegasnya.

Alternatif kedua adalah bergabung dan ikut bersaing memimpin Partai Demokrat NTB. Menurutnya, Demokrat memiliki basis politik yang lebih mapan dibandingkan PSI di NTB.

Meski mengakui Demokrat memiliki sejumlah tokoh internal, termasuk mantan Kapolda NTB Hadi Gunawan, Alfisahrin tetap menilai Iqbal memiliki peluang lebih besar.

"Tetapi bagi saya jika Iqbal masuk Demokrat peluang jauh lebih besar dibanding Hadi Gunawan untuk memimpin Demokrat NTB. Terutama jika indikatornya adalah ketokohan, popularitas, elektabilitas dan modal politik. Apalagi Iqbal adalah gubernur aktif, tentu akan memberi efek ekor jas bagi bobot elektoral Partai Demokrat di NTB," tegasnya.

PSI Dinilai Belum Menjadi Pilihan Ideal

Sementara itu, opsi bergabung ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai kurang menguntungkan bagi masa depan politik Iqbal.

"Hemat saya kurang pas jika Iqbal hijrah ke PSI bukan karena ideologi dan platform politik yang diusung tetapi masa depan politiknya bisa redup," katanya.

Menurutnya, PSI masih dalam tahap membangun struktur politik di NTB sehingga belum memiliki basis elektoral yang kuat.

"Sebagai partai, PSI masih membangun struktur di NTB. Artinya PSI masih lebih membutuhkan figur daripada figur membutuhkan PSI. Meski ada irisan historis bahwa Jokowi punya kedekatan dengan Iqbal, tetapi kultur politik lokal di NTB berbeda,"terangnya.

Ia menambahkan, mengandalkan PSI sebagai mesin politik masih memiliki risiko yang cukup besar.

Editor : Purnawarman

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut