Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Masyarakat Dukung Keberlanjutan Operasional Smelter di Sumbawa Barat
Advertisement . Scroll to see content

Dari MOL hingga Kompos, Desa Tatar Sumbawa Barat Bangun Kemandirian Perempuan dan Petani Milenial

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 18:44 WIB
  • author Purnawarman
Dari MOL hingga Kompos, Desa Tatar Sumbawa Barat Bangun Kemandirian Perempuan dan Petani Milenial
Kelompok perempuan dan petani milenial Desa Tatar, Sumbawa Barat, belajar mengolah bahan lokal menjadi MOL untuk mendukung pengembangan pertanian organik. (Foto: istimewa)

Setelah pelatihan, masyarakat mulai mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh melalui pembangunan Rumah MOL Komunal dan Rumah Kompos Komunal. Fasilitas tersebut menjadi tempat bersama untuk memproduksi bahan pendukung pertanian secara mandiri.

Rumah MOL Komunal dibangun pada 12 Oktober 2026, disusul Rumah Kompos Komunal pada 13 Oktober 2026. Kehadiran fasilitas tersebut diarahkan untuk membantu petani memanfaatkan bahan organik lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap input dari luar.

1,42 Hektare Lahan Dikembangkan

Untuk tahap awal di Desa Tatar, program pertanian organik akan dikembangkan pada lahan seluas 142 are atau sekitar 1,42 hektare.

Lahan tersebut dibagi menjadi tiga pengembangan. Sekitar 105 are dialokasikan untuk padi SRI Organik, 35 are untuk Sayuran Organik Keluarga (SORGA), dan 2 are untuk Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Budidaya dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026 hingga Maret 2027.

Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, mengatakan program tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengubah teknik bercocok tanam, tetapi juga memperkuat ekonomi rumah tangga petani melalui konsep Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan (PSRLB).

“Program ini tidak hanya memperkenalkan teknik pertanian organik, tetapi juga mendorong petani agar semakin percaya pada kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki. Ketika masyarakat mampu memproduksi kompos dan MOL secara mandiri, mereka tidak hanya dapat menekan biaya produksi, tetapi juga mulai membangun sistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan. Kami berharap pengetahuan ini terus berkembang dan memberi manfaat bagi semakin banyak keluarga petani di Desa Tatar,” ujar Aji.

Perempuan Jadi Penggerak Pertanian Organik

Keterlibatan perempuan menjadi salah satu bagian penting dalam program tersebut. Para anggota KWT tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga mulai mempraktikkan pembuatan MOL dan kompos dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Ketua Presidium Pertanian Organik Desa Tatar, Nikmah, mengatakan kegiatan tersebut mengubah cara pandang perempuan terhadap bahan-bahan yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai guna.

“Dulu kami melihat nasi sisa dan bahan-bahan di sekitar rumah hanya sebagai sesuatu yang tidak terpakai. Sekarang kami belajar bahwa semuanya dapat diolah dan memberi manfaat bagi tanaman. Pengetahuan ini membuat kami semakin bersemangat karena ternyata perempuan juga bisa belajar, menghasilkan sesuatu, dan membawa perubahan bagi pertanian di desa kami,” ujar Nikmah.

Dalam pengembangan program, terdapat pula kelompok perempuan yang mendapatkan pelatihan khusus. Sejumlah laporan mengenai program menyebut 13 petani perempuan menjadi bagian dari kelas awal pengembangan kapasitas pertanian organik di Desa Tatar.

Didukung Pemerintah Desa dan Penyuluh Pertanian

Pengembangan pertanian organik di Desa Tatar tidak dilakukan hanya oleh kelompok tani. Program ini melibatkan Pemerintah Desa Tatar dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk mendukung proses pendampingan di lapangan.

Akses pemasaran juga mulai dipersiapkan. Maluk Ecopile direncanakan membantu pemasaran hasil pertanian organik dari program tersebut. Sementara kalangan akademisi terbuka untuk dilibatkan dalam memperkuat validasi ilmiah terhadap praktik budidaya yang diterapkan.

Pengembangan pasar menjadi penting karena keberhasilan pertanian organik tidak hanya ditentukan oleh produktivitas, tetapi juga kemampuan petani menjual hasil panen dengan nilai ekonomi yang memadai.

Sejumlah hasil pertanian organik dari kawasan Maluk dan Benete sebelumnya juga dilaporkan telah memiliki pasar di wilayah sekitar. Skema pemasaran hasil panen Desa Tatar, Maluk, dan Benete selanjutnya diarahkan untuk dihimpun melalui kelembagaan bersama sebelum dipasarkan.

Sumbawa Barat Punya Basis Produksi Padi

Pengembangan pertanian organik tersebut berlangsung di tengah besarnya sektor pertanian dalam struktur pangan NTB.

Data BPS menunjukkan Kabupaten Sumbawa Barat pada 2025 memiliki luas panen padi sekitar 14.541 hektare dengan produktivitas rata-rata 52,70 kuintal per hektare. Produksi padi tercatat sekitar 76.626 ton.

Pada tahun yang sama, produksi beras Sumbawa Barat tercatat sekitar 43.642 ton. Secara keseluruhan, NTB menghasilkan sekitar 1,71 juta ton padi pada 2025 dari luas panen 322.896 hektare.

Data tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pertanian organik di Desa Tatar masih merupakan program pada skala terbatas, tetapi memiliki ruang untuk menjadi model pemberdayaan jika produktivitas, kualitas hasil, efisiensi biaya, dan akses pasar dapat dipertahankan.

Menyiapkan Kemandirian Petani

Pengembangan pertanian organik di Tatar diarahkan tidak sekadar mengejar hasil panen. Program tersebut juga mendorong petani menguasai proses produksi sarana pertanian secara mandiri.

Dengan kemampuan membuat MOL dan kompos dari bahan lokal, petani diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap input eksternal sekaligus menekan sebagian biaya produksi.

Keterlibatan petani perempuan dan generasi muda juga menjadi bagian penting karena keberlanjutan sektor pertanian sangat bergantung pada regenerasi pelaku usaha tani.

Melalui kolaborasi antara kelompok tani, perempuan, petani milenial, pemerintah desa, penyuluh, perusahaan, dan mitra pendamping, Desa Tatar kini mulai membangun model pertanian yang menggabungkan produktivitas dengan pengelolaan sumber daya secara lebih berkelanjutan.

Program budidaya pada lahan 1,42 hektare tersebut akan menjadi tahap penting untuk melihat sejauh mana metode SRI Organik, SORGA, dan TOGA dapat berkembang serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Desa Tatar.

Editor: Purnawarman

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut