get app
inews
Aa Text
Read Next : Gubernur Lalu Iqbal Bongkar 60 persen ASN Eks Honorer, PusDek UIN: Target NTB Mendunia Bisa Berat

Harga Murai Bisa Tembus Rp100 Juta, Ini Cerita Peternak Burung di NTB

Kamis, 11 Juni 2026 | 18:43 WIB
header img
Anggota Semeton Murai Lombok mengikuti ajang gantangan burung murai di kawasan eks Bandara Selaparang, Kota Mataram. Komunitas ini rutin berkumpul setiap bulan. (Foto: iNewsLombok.id)

Dalam perlombaan, juri biasanya menilai kualitas suara, variasi isian kicauan, durasi berkicau, gaya, hingga kondisi fisik burung.

Kemampuan murai dalam meniru suara burung lain menjadi salah satu nilai tambah. Burung ini dapat merekam dan membawakan suara seperti kenari, burung gereja, hingga perkutut.

Semakin banyak variasi suara yang mampu dibawakan, peluang untuk mendapatkan nilai tinggi pun semakin besar.

“Standarnya burung akan berkicau selama 10 menit. Tapi ada juga yang lebih lama,” jelas Lutfi.

Selain suara, penampilan burung saat bertanding juga menjadi bagian dari penilaian.

Komunitas Tanpa Sekat Status Sosial

Menariknya, anggota Semeton Murai Lombok berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari masyarakat umum hingga pejabat turut bergabung sebagai penghobi burung kicau.

Bagi komunitas ini, semua anggota memiliki kedudukan yang sama ketika berada di arena perlombaan.

“Tidak pandang itu siapa. Kadang orang top datang pakai kolor ikut lomba burung itu biasa,” ujar Lutfi yang juga merupakan ASN di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).

Menurutnya, dunia kicau mania tidak hanya berbicara soal kompetisi, tetapi juga membangun persaudaraan sesama penghobi.

Hobi Murai Batu Berbuah Peluang Ekonomi

Selain menjadi sarana hiburan dan silaturahmi, memelihara murai juga membuka peluang ekonomi bagi sebagian anggota komunitas.

Salah satunya Dedy Supiandi, anggota Semeton Murai Lombok, yang tidak hanya mengikuti lomba tetapi juga membudidayakan murai batu.

“Saya selain ikut lomba juga sebagai peternak murai,” kata Dedy.

Dedy telah menekuni usaha ternak murai khusus lomba sejak 2019. Menurutnya, pasar burung berkualitas cukup menjanjikan.

Anakan murai jantan berusia sekitar dua bulan bisa dijual dengan harga sekitar Rp2,5 juta. Sementara murai dewasa yang siap turun lomba dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp10 juta.

“Bahkan kalau bagus dan dikenal sering juara harganya sampai Rp100 juta di wilayah NTB ini,” tutur Dedy.

Fenomena ini menunjukkan bahwa komunitas burung kicau tidak hanya menjadi ruang berkumpul bagi pecinta satwa, tetapi juga berkembang menjadi ekosistem ekonomi kreatif berbasis hobi.

Summary (maksimal 160 karakter):

 

 

 

Semeton Murai Lombok menjadi wadah pecinta murai di NTB, rutin kopdar, lomba gantangan, hingga membuka peluang bisnis burung kicau.

 

 

Caption Foto:

 

 

Anggota Semeton Murai Lombok mengikuti ajang gantangan burung murai di kawasan eks Bandara Selaparang, Kota Mataram. Komunitas ini rutin berkumpul setiap bulan.

 

Editor : Purnawarman

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut