get app
inews
Aa Text
Read Next : Gubernur Lalu Iqbal Bongkar 60 persen ASN Eks Honorer, PusDek UIN: Target NTB Mendunia Bisa Berat

Harga Murai Bisa Tembus Rp100 Juta, Ini Cerita Peternak Burung di NTB

Kamis, 11 Juni 2026 | 18:43 WIB
header img
Anggota Semeton Murai Lombok mengikuti ajang gantangan burung murai di kawasan eks Bandara Selaparang, Kota Mataram. Komunitas ini rutin berkumpul setiap bulan. (Foto: iNewsLombok.id)

LOMBOK, iNewsLombok.id - Suara merdu burung murai masih menjadi daya tarik tersendiri bagi para penghobi burung kicau di Pulau Lombok. Di tengah perkembangan komunitas kicau mania, hadir Semeton Murai Lombok (SML) yang menjadi wadah bagi para pecinta murai untuk berkumpul, bertukar pengalaman, hingga menguji kualitas burung melalui ajang gantangan.

Dentuman musik dangdut bernuansa hip-hop dari lagu Kicau Mania yang dipopulerkan Ndarboy Genk bersama Banditoz Yaow 86 terdengar dari pengeras suara di kawasan eks Bandara Selaparang, Kota Mataram, Kamis (11/6/2026).

Lagu yang identik dengan dunia kicau mania itu seakan menjadi tanda dimulainya aktivitas para penghobi burung yang datang membawa sangkar masing-masing.

Satu per satu peserta mulai berdatangan. Mereka membawa burung kesayangan dengan berbagai ukuran sangkar. Dari sekian banyak burung yang hadir, mayoritas merupakan jenis murai batu.

Jumlahnya pun tidak sedikit. Lebih dari seratus ekor murai berkumpul dalam agenda komunitas tersebut.

“Ini adalah acara komunitas yang kami gelar sebulan sekali. Jadi selalu ramai,” kata Ketua Semeton Murai Lombok, Mahfud Lutfi.

Komunitas Semeton Murai Lombok (SML) dibentuk sebagai wadah berkumpulnya para penghobi burung murai. Organisasi tersebut resmi berdiri pada Juli 2023 dan hingga kini telah memiliki ratusan anggota.

Lutfi memperkirakan jumlah anggota SML di Pulau Lombok mencapai sekitar 200 orang.

“Saya sih nggak pernah data secara konkret. Tapi saya perkirakan jumlah anggota di Lombok ini saja ada 200-an orang,” ujar Lutfi.

Berawal dari Pertemuan di Ajang Lomba

Menurut Lutfi, terbentuknya komunitas ini bermula dari pertemuan para pecinta murai yang sering bertemu dalam berbagai perlombaan burung kicau.

Karena memiliki kesamaan hobi, mereka kemudian sepakat membangun sebuah komunitas agar komunikasi dan koordinasi lebih mudah.

“Ini berjalan sampai sekarang. Alhamdulillah kami masih rutin kopdar,” tuturnya.

Kegiatan kopi darat atau kopdar tersebut biasanya digelar setiap bulan. Selain mempererat hubungan antaranggota, agenda itu juga menjadi kesempatan untuk mengadakan lomba gantangan.

Lokasi kegiatan pun berpindah-pindah. Namun, kawasan eks Bandara Selaparang menjadi salah satu tempat yang paling sering digunakan.

“Lokasi gantangan biasanya bergilir. Pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tapi paling sering di lapangan eks Bandara Selaparang,” ungkapnya.

Murai Batu Jadi Primadona Kicau Mania

Jenis burung yang paling sering dilombakan adalah murai batu. Burung ini dikenal memiliki suara khas, volume kuat, serta kemampuan menirukan berbagai suara burung lain.

Murai batu termasuk burung pengicau yang memiliki ciri khas warna cokelat kehitaman, paruh hitam, serta bagian bawah tubuh berwarna putih.

Dalam perlombaan, juri biasanya menilai kualitas suara, variasi isian kicauan, durasi berkicau, gaya, hingga kondisi fisik burung.

Kemampuan murai dalam meniru suara burung lain menjadi salah satu nilai tambah. Burung ini dapat merekam dan membawakan suara seperti kenari, burung gereja, hingga perkutut.

Semakin banyak variasi suara yang mampu dibawakan, peluang untuk mendapatkan nilai tinggi pun semakin besar.

“Standarnya burung akan berkicau selama 10 menit. Tapi ada juga yang lebih lama,” jelas Lutfi.

Selain suara, penampilan burung saat bertanding juga menjadi bagian dari penilaian.

Komunitas Tanpa Sekat Status Sosial

Menariknya, anggota Semeton Murai Lombok berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari masyarakat umum hingga pejabat turut bergabung sebagai penghobi burung kicau.

Bagi komunitas ini, semua anggota memiliki kedudukan yang sama ketika berada di arena perlombaan.

“Tidak pandang itu siapa. Kadang orang top datang pakai kolor ikut lomba burung itu biasa,” ujar Lutfi yang juga merupakan ASN di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).

Menurutnya, dunia kicau mania tidak hanya berbicara soal kompetisi, tetapi juga membangun persaudaraan sesama penghobi.

Hobi Murai Batu Berbuah Peluang Ekonomi

Selain menjadi sarana hiburan dan silaturahmi, memelihara murai juga membuka peluang ekonomi bagi sebagian anggota komunitas.

Salah satunya Dedy Supiandi, anggota Semeton Murai Lombok, yang tidak hanya mengikuti lomba tetapi juga membudidayakan murai batu.

“Saya selain ikut lomba juga sebagai peternak murai,” kata Dedy.

Dedy telah menekuni usaha ternak murai khusus lomba sejak 2019. Menurutnya, pasar burung berkualitas cukup menjanjikan.

Anakan murai jantan berusia sekitar dua bulan bisa dijual dengan harga sekitar Rp2,5 juta. Sementara murai dewasa yang siap turun lomba dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp10 juta.

“Bahkan kalau bagus dan dikenal sering juara harganya sampai Rp100 juta di wilayah NTB ini,” tutur Dedy.

Fenomena ini menunjukkan bahwa komunitas burung kicau tidak hanya menjadi ruang berkumpul bagi pecinta satwa, tetapi juga berkembang menjadi ekosistem ekonomi kreatif berbasis hobi.

Summary (maksimal 160 karakter):

 

 

 

Semeton Murai Lombok menjadi wadah pecinta murai di NTB, rutin kopdar, lomba gantangan, hingga membuka peluang bisnis burung kicau.

 

 

Caption Foto:

 

 

Anggota Semeton Murai Lombok mengikuti ajang gantangan burung murai di kawasan eks Bandara Selaparang, Kota Mataram. Komunitas ini rutin berkumpul setiap bulan.

 

Editor : Purnawarman

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut