Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Warga Pesisir Sekaroh dan Seriwe Hearing ke DPRD Lombok Timur Keluhkan Belum Merata Akses Air Bersih
Advertisement . Scroll to see content

Krisis Air Bersih di Gili Meno Sudah Tiga Tahun, Warga Tolak Desalinasi dan Desak Pipa Bawah Laut

Kamis, 21 Mei 2026 | 23:22 WIB
  • author Anggi Setiawati
Krisis Air Bersih di Gili Meno Sudah Tiga Tahun, Warga Tolak Desalinasi dan Desak Pipa Bawah Laut
Warga Gili Meno bersama WALHI NTB menggelar aksi damai di pesisir pantai menolak proyek desalinasi SWRO dan menuntut pembangunan pipa bawah laut untuk akses air bersih. (Foto: iNewsLombok.id/Anggi Setiawati)

LOMBOK, iNewsLombok.id - Krisis air bersih masih menjadi persoalan serius yang dihadapi warga Dusun Gili Meno, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Selama lebih dari tiga tahun terakhir, sekitar 267 kepala keluarga atau hampir 1.000 jiwa kesulitan mendapatkan akses air bersih yang layak untuk kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut memicu aksi protes masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Meno Bersatu bersama WALHI NTB, Meno Lestari, dan Wanapala NTB. Mereka menggelar aksi damai di pesisir Pantai Gili Meno, Kamis (21/5/2026), dengan membentangkan spanduk bertuliskan “Kami Butuh Air Bersih Melalui Pipa Bawah Laut atau Tidak Sama Sekali.”


Krisis Air Bersih di Gili Meno Kian Parah, Warga Tolak Desalinasi dan Desak Pipa Bawah Laut (iNewsLombok.id/Anggi Setiawati)

Aksi itu dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pembangunan sistem penyediaan air bersih menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut yang akan dijalankan pihak korporasi.

Koordinator Lapangan Aksi Meno di Laut, Masrun, menilai krisis air bersih yang terjadi di Gili Meno merupakan dampak dari kebijakan pengelolaan air yang diserahkan kepada pihak perusahaan tanpa pengawasan lingkungan yang ketat.

Menurutnya, warga lebih membutuhkan pembangunan jaringan pipa bawah laut dari Pulau Lombok seperti yang telah diterapkan di Gili Air dibandingkan penggunaan teknologi desalinasi.

“Saat ini kebutuhan air bersih sehari-hari warga bergantung pada air hujan yang ditampung. Kondisi ini menempatkan perempuan pada beban yang semakin berat untuk memastikan pemenuhan air minum, sanitasi, pangan sehat, dan ekonomi lokal,” ujar Masrun.

Editor: Purnawarman

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut