Iran Gempur Pangkalan AS di Arab Saudi, 12 Tentara Terluka dan Armada Rusak
Serangan ini menjadi yang kedua kalinya pangkalan tersebut disasar sejak perang antara Iran dan AS dimulai pada 28 Februari 2026. Dalam serangan sebelumnya, sedikitnya lima pesawat tanker militer juga rusak.
Insiden ini turut memicu reaksi dari Presiden AS saat itu, Donald Trump, yang menanggapi laporan media dengan nada keras.
“Mereka ingin kita kalah perang.”
Pernyataan tersebut disampaikan Trump sebagai respons atas pemberitaan media terkait kerusakan fasilitas militer AS.
Di tengah eskalasi konflik, laporan dari CBS News menyebutkan bahwa kapal induk USS George H.W. Bush akan segera bergabung dalam wilayah operasi CENTCOM (Komando Pusat AS).
Kapal induk tersebut sebelumnya telah menyelesaikan latihan militer dan kini siap untuk dikerahkan ke zona konflik.
Saat ini, Amerika Serikat telah mengoperasikan dua kapal induk dalam konflik melawan Iran, yakni:
USS Abraham Lincoln
USS Gerald R. Ford
Namun, USS Gerald R. Ford dilaporkan sempat ditarik ke pangkalan di Kreta akibat sejumlah kendala teknis, termasuk insiden kebakaran.
Analis militer Ron Ben-Yishai menilai bahwa pengerahan kapal induk tambahan bertujuan menjaga stabilitas operasi militer jangka panjang.
Langkah ini juga dinilai sebagai strategi untuk:
Menghindari kelelahan operasional pasukan
Menjaga tekanan militer terhadap Iran
Mengantisipasi keterlibatan pihak lain seperti kelompok Houthi di Yaman
Selain itu, kehadiran kapal induk tambahan memungkinkan armada lain untuk melakukan rotasi dan pengisian ulang logistik.
Hingga kini, belum dipastikan apakah USS George H.W. Bush akan ditempatkan di Mediterania Timur atau dialihkan ke Laut Merah melalui Terusan Suez.
Keputusan ini akan sangat menentukan arah operasi militer AS, terutama dalam menghadapi target strategis Iran di kawasan barat maupun jalur laut vital.
Pangkalan Udara Prince Sultan merupakan salah satu basis utama operasi udara AS di Arab Saudi sejak konflik Teluk.
Konflik Iran-AS pada 2026 disebut sebagai salah satu eskalasi terbesar sejak ketegangan di Teluk Persia dalam dua dekade terakhir.
Keterlibatan pihak ketiga seperti kelompok Houthi berpotensi memperluas konflik menjadi perang regional.
Pakistan dilaporkan menjadi mediator dalam komunikasi tidak langsung antara Iran dan AS untuk meredakan ketegangan.
Editor : Purnawarman