get app
inews
Aa Text
Read Next : Iran Sebut Militer AS Macan Kertas, Klaim Kekuatan Melemah di Timur Tengah

Iran Gempur Pangkalan AS di Arab Saudi, 12 Tentara Terluka dan Armada Rusak

Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:18 WIB
header img
Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi pada Jumat malam waktu setempat. (Foto: NewsX)

RIYADH, iNewsLombok.id – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi pada Jumat malam waktu setempat.

Laporan dari The Wall Street Journal pada Sabtu (28/3/2026) menyebutkan bahwa sedikitnya 12 personel militer Amerika Serikat mengalami luka-luka, termasuk dua orang dalam kondisi kritis. Selain itu, sejumlah pesawat pengisian bahan bakar militer AS juga dilaporkan mengalami kerusakan.

Serangan tersebut menghantam fasilitas militer yang menjadi salah satu basis penting operasi AS di kawasan Timur Tengah.

Serangan Rudal dan Drone Hantam Fasilitas Militer

Menurut pejabat AS dan Arab Saudi yang mengetahui insiden tersebut, serangan terjadi saat sejumlah personel berada di dalam bangunan di area pangkalan.

Bangunan itu dilaporkan terkena rudal balistik serta beberapa drone, yang menyebabkan korban luka dan kerusakan signifikan.

Serangan ini menjadi yang kedua kalinya pangkalan tersebut disasar sejak perang antara Iran dan AS dimulai pada 28 Februari 2026. Dalam serangan sebelumnya, sedikitnya lima pesawat tanker militer juga rusak.

Respons AS dan Kritik Donald Trump

Insiden ini turut memicu reaksi dari Presiden AS saat itu, Donald Trump, yang menanggapi laporan media dengan nada keras.

“Mereka ingin kita kalah perang.”

Pernyataan tersebut disampaikan Trump sebagai respons atas pemberitaan media terkait kerusakan fasilitas militer AS.

AS Siapkan Tambahan Kekuatan Militer

Di tengah eskalasi konflik, laporan dari CBS News menyebutkan bahwa kapal induk USS George H.W. Bush akan segera bergabung dalam wilayah operasi CENTCOM (Komando Pusat AS).

Kapal induk tersebut sebelumnya telah menyelesaikan latihan militer dan kini siap untuk dikerahkan ke zona konflik.

Saat ini, Amerika Serikat telah mengoperasikan dua kapal induk dalam konflik melawan Iran, yakni:

USS Abraham Lincoln

USS Gerald R. Ford

Namun, USS Gerald R. Ford dilaporkan sempat ditarik ke pangkalan di Kreta akibat sejumlah kendala teknis, termasuk insiden kebakaran.

Strategi Penambahan Kapal Induk

Analis militer Ron Ben-Yishai menilai bahwa pengerahan kapal induk tambahan bertujuan menjaga stabilitas operasi militer jangka panjang.

Langkah ini juga dinilai sebagai strategi untuk:

Menghindari kelelahan operasional pasukan

Menjaga tekanan militer terhadap Iran

Mengantisipasi keterlibatan pihak lain seperti kelompok Houthi di Yaman

Selain itu, kehadiran kapal induk tambahan memungkinkan armada lain untuk melakukan rotasi dan pengisian ulang logistik.

Potensi Perluasan Konflik di Timur Tengah

Hingga kini, belum dipastikan apakah USS George H.W. Bush akan ditempatkan di Mediterania Timur atau dialihkan ke Laut Merah melalui Terusan Suez.

Keputusan ini akan sangat menentukan arah operasi militer AS, terutama dalam menghadapi target strategis Iran di kawasan barat maupun jalur laut vital.

Pangkalan Udara Prince Sultan merupakan salah satu basis utama operasi udara AS di Arab Saudi sejak konflik Teluk.

Konflik Iran-AS pada 2026 disebut sebagai salah satu eskalasi terbesar sejak ketegangan di Teluk Persia dalam dua dekade terakhir.

Keterlibatan pihak ketiga seperti kelompok Houthi berpotensi memperluas konflik menjadi perang regional.

Pakistan dilaporkan menjadi mediator dalam komunikasi tidak langsung antara Iran dan AS untuk meredakan ketegangan.

Editor : Purnawarman

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut