LOMBOK, iNewsLombok.id - Kemunculan tokoh politik Nusa Tenggara Barat (NTB), H Mori Hanafi, viral foto hormat ke Ketua Umum Gerindra saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke NTB menjadi sinyal kuat kembali ke partai yang membesarkan namanya di bumi seribu masjid.
Pengamat Politik Universitas Internasional Bima, Dr. Alfisahrin, menilai keakraban Mori Hanafi dengan sejumlah petinggi Gerindra memberi sinyal akan kembali ke partai berlambang kepala garuda tersebut.
"Modal jaringan dan kedekatan dengan pejabat strategis yang dimiliki Mori Hanafi di Gerindea, dapat dibaca sebagai konsistensi terpeliharanya komunikasi Mori Hanafi dengan elite nasional," ujar Alfisahrin, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, dalam praktik politik Indonesia, hubungan personal merupakan salah satu modal penting selain posisi formal di dalam struktur partai. Karena itu, setiap interaksi antarelite menjelang agenda politik nasional maupun konsolidasi partai kerap memunculkan berbagai tafsir.
"Momentum politik. Menjelang konsolidasi partai dan persiapan agenda politik berikutnya, pertemuan atau keakraban antarpolitisi sering memunculkan tafsir tentang kemungkinan reposisi politik. Hal seperti ini lazim terjadi," katanya.
Meski demikian, Alfisahrin menegaskan bahwa peluang Mori Hanafi kembali ke Gerindra masih sebatas kemungkinan yang belum memiliki dasar kuat.
"Namun, jika ditanya apakah Mori Hanafi berpeluang kembali ke Gerindra, jawaban saya, bahwa politik sebagai seni membaca posibilitas atau kemungkinan," terangnya.
Dikonfirmas, Mori Hanafi menangapi santai bahwa hal itu sah saja dan dirinya memang sudah lama dekat dengan elit di gerindra.
"Biasa saja, saya ini kan alumni Hambalang juga,"ungkapnya.
Ia menjelaskan, dalam literatur politik terdapat sejumlah faktor yang umumnya melatarbelakangi kembalinya seorang mantan kader ke partai asal.
"Biasanya dipengaruhi oleh dan bergantung pada beberapa alasan. Misalnya, ada kebutuhan strategis partai, intensitas komunikasi dengan pimpinan di DPP, dan kesesuaian kepentingan politik kedua belah pihak."
"Bisa juga karena ada posisi tinggi dan strategis yang ditawarkan kepada eks kader," tambahnya.
Pengaruh Politik Mori Hanafi Masih Diperhitungkan
Menurut Alfisahrin, Mori Hanafi hingga kini masih memiliki modal politik yang kuat di NTB. Pengalaman panjang di dunia politik, jaringan yang luas, serta hubungan baik dengan sejumlah tokoh nasional membuat namanya tetap diperhitungkan dalam dinamika politik daerah.
"Harus diakui sampai saat ini, Mori Hanafi memiliki modal politik dan pengaruh politik yang masih kuat dan solid di NTB," ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menafsirkan foto kebersamaan Mori Hanafi dengan elite Gerindra saat peresmian Bendungan Meninting yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, simbol dan gestur dalam politik memang selalu membuka ruang interpretasi yang luas.
"Namun, dalam politik, simbol dan gestur punya konteks makna yang khas."
"Kita sebagai homo simbolicum atau makhluk politik pengguna simbol, dapat memberi makna dan tafsir politik dari foto Mori Hanafi tersebut, dalam banyak konteks, bisa sosial, budaya, dan politik tergantung angle dan kepentingan. Foto Mori Hanafi tersebut, bagi publik dapat memunculkan sejumlah makna dan spekulasi politik."
Kedekatan dengan Gerindra Dinilai Bersifat Historis
Alfisahrin berpandangan bahwa keakraban yang terlihat dalam foto tersebut lebih mencerminkan hubungan historis Mori Hanafi dengan Partai Gerindra dibandingkan sebagai sinyal perpindahan partai.
"Tetapi saya mau katakan bahwa di foto-foto itu, hanya gesture hospitality atau keramahan saja. Karena Mori Hanafi adalah eks kader Gerindra NTB yang ikonik, loyal, dan dekat dengan Dasco," katanya.
Menurutnya, publik NTB masih mengingat peran Mori Hanafi sebagai salah satu tokoh penting Gerindra pada masa lalu.
"Jadi ada faktor relasi dan romantisme keakraban historis masa lalu. Publik di NTB masih punya memori dan ingatan kolektif yang segar bahwa Mori Hanafi memang dikenal familiar sebagai kader andalan Gerindra dan termasuk dalam lingkaran elite di NTB."
Ia menambahkan, hubungan yang telah terbangun selama bertahun-tahun membuat kedekatan personal maupun emosional dengan sejumlah elite Gerindra tetap terjaga.
"Mereka masih punya kedekatan personal, ikatan emosional, antropologis, bahkan mungkin ideologis dengan Partai Gerindra yang membesarkan kariernya. Secara politik intimacy atau kedekatan yang disebabkan oleh relasi ideologis di partai biasanya tidak mudah hilang meski pilihan politik dan partai sudah berubah."
Alfisahrin mengakui, apabila suatu saat Gerindra membutuhkan figur berpengalaman dengan jaringan politik yang luas, nama Mori Hanafi berpotensi menjadi salah satu sosok yang dipertimbangkan.
"Jika Gerindra membutuhkan figur yang memiliki pengalaman elektoral, jaringan birokrasi, dan kedekatan dengan elite nasional, Mori Hanafi bisa saja diajak kembali masuk di lingkaran elite Gerindra."
"Jadi hemat saya, foto selfie dan keakraban Mori Hanafi di acara peresmian bendungan yang dihadiri langsung Presiden Prabowo lebih tepat dibaca sebagai sinyal bahwa hubungan personal, emosional, dan antropologis Mori Hanafi tetap baik dengan seluruh jajaran Partai Gerindra di pusat dan daerah,"ungkapnya.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
