LOMBOK, iNewsLombok.id – Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani yang juga Mantan Danrem 162 Wira Bhakti ini memastikan harga dan ketersediaan sejumlah kebutuhan pokok di Kota Mataram, masih dalam kondisi terkendali.
Kepastian tersebut disampaikan setelah Ahmad Rizal meninjau langsung harga dan pasokan sejumlah komoditas di Pasar Tradisional Kebon Roek, Mataram, Minggu (11/10/2026). Dalam kunjungan itu, ia didampingi anggota Satgas Pangan Polda NTB.
Sejumlah komoditas yang dipantau antara lain daging sapi, daging ayam, bawang, cabai, serta minyak goreng Minyakita.
Ahmad Rizal menjelaskan Pasar Kebon Roek merupakan salah satu pasar yang masuk dalam Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Data dari pasar tersebut menjadi salah satu rujukan dalam memantau perkembangan harga kebutuhan pokok di Kota Mataram.
"Hari ini tadi kita sudah meninjau harga sembako, khususnya di Pasar Kebon Roek di Kota Mataram. Kebon Roek ini adalah pasar SP2KP, pasar pencatatan oleh BPS untuk melihat standarisasi harga pangan di wilayah Kota Mataram," katanya.
Harga Ayam dan Cabai Jadi Perhatian
Hasil pemantauan menunjukkan harga daging sapi berada di kisaran Rp150.000 per kilogram. Sementara harga daging ayam ras mencapai sekitar Rp38.000 per kilogram.
Harga ayam tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan kisaran normal yang berada di sekitar Rp31.000-Rp32.000 per kilogram. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pemantauan pasar.
Sementara harga bawang berada di kisaran Rp30.000 per kilogram. Komoditas cabai, terutama cabai rawit dan cabai keriting, juga menjadi perhatian karena harganya relatif tinggi.
Ahmad Rizal menilai tingginya permintaan masyarakat terhadap cabai di Lombok turut memengaruhi pergerakan harga komoditas tersebut.
Meski ada sejumlah komoditas yang mengalami tekanan harga, kondisi kebutuhan pokok secara keseluruhan dinilai masih terkendali.
"Namun pada prinsipnya, secara umum harga stabil di Mataram ini," ujarnya.
Menurut Ahmad Rizal, pengawasan pasar tidak semata-mata dilakukan untuk memantau perubahan harga. Ketersediaan barang di tingkat pedagang juga menjadi perhatian agar masyarakat tidak menghadapi kelangkaan kebutuhan pokok.
Minyakita Tersedia, Distribusi Maksimal 30 Pack per Kios
Dalam kunjungan tersebut, Ahmad Rizal juga memeriksa ketersediaan minyak goreng rakyat Minyakita di sejumlah kios.
Ia menyebut Minyakita masih tersedia di hampir seluruh kios yang dipantau. Namun, sebagai komoditas bersubsidi, penyalurannya memiliki mekanisme dan batas alokasi tertentu.
"Memang distribusinya karena Minyakita itu minyak subsidi, jadi pendistribusiannya seminggu satu kali. Satu kios maksimum adalah 30 pack," katanya.
Distribusi tersebut dilakukan secara proporsional agar pasokan Minyakita dapat menjangkau lebih banyak pedagang dan masyarakat.
Selain itu, Bulog juga mendapat masukan dari pedagang terkait ukuran kemasan Minyakita. Pemerintah disebut tengah mengevaluasi kemungkinan penyediaan kemasan satu liter, selain kemasan yang tersedia saat ini.
Stok Pangan Bulog NTB
Pimpinan Kantor Wilayah Bulog NTB Mara Kamin Siregar mengatakan stok beras di gudang Bulog NTB mencapai 256,023 ton.
Jumlah tersebut terdiri atas beras cadangan pemerintah (CBP) sebanyak 255.905 ton dan beras komersial 118 ton.
Selain beras, Bulog NTB memiliki stok minyak goreng sebanyak 394.522 liter. Rinciannya, minyak goreng komersial 394.490 liter dan minyak goreng PSO sebanyak 32 liter.
"Bulog NTB juga masih memiliki persediaan gula pasir sebanyak 80 ton, dan jagung sebanyak 18.792 ton," ucap Mara Kamin Siregar.
Sebelumnya, pada Sabtu (10/10/2026), Ahmad Rizal juga melakukan pengecekan beras Bulog di sejumlah ritel modern di Kota Mataram. Dalam pemeriksaan tersebut, beras premium Bulog disebut tersedia dengan harga maksimal Rp74.500 untuk kemasan 5 kilogram atau setara Rp14.900 per kilogram.
Bulog Siapkan Tambahan Jagung SPHP
Selain persoalan harga ayam, pemerintah juga menyiapkan tambahan pasokan jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Bulog menyebut pemerintah menambah kuota jagung SPHP sebanyak 150.000 ton secara nasional. Tambahan tersebut ditujukan untuk membantu peternak mikro, terutama di tengah tingginya kebutuhan ayam dan telur untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ahmad Rizal menyebut kuota awal jagung SPHP sebanyak 200.000 ton telah terserap. Untuk NTB, penyalurannya disebut telah mencapai sekitar 85 persen. Harga jagung SPHP tersebut ditetapkan Rp5.000 per kilogram.
"Yang kuota pertama sudah habis yang 200.000 ton. Ini sekarang mau nambah lagi jadi 150.000 ton. Harganya Rp5.000 per kilogram (kg)," terang Rizal.
Dengan tambahan pasokan tersebut, Bulog berharap tekanan biaya pakan dapat ditekan sehingga produksi ayam dan telur tetap terjaga.
Satgas Pangan Ikut Awasi Pasar
Kehadiran Satgas Pangan Polda NTB dalam pemantauan Pasar Kebon Roek menjadi bagian dari pengawasan harga dan ketersediaan kebutuhan pokok di tingkat pasar tradisional.
Pengawasan dilakukan untuk melihat perkembangan harga secara langsung sekaligus memastikan barang kebutuhan masyarakat tersedia dan tidak terjadi gangguan distribusi.
Ahmad Rizal menegaskan kondisi pangan di Mataram masih aman berdasarkan hasil pemantauan lapangan.
"Namun pada prinsipnya, saya perhatikan di NTB khususnya di Mataram, harga-harga sembako cukup aman, terkendali, dan saya nyatakan tersedia dengan banyak," ujarnya.
Secara nasional, Bulog juga mencatat stok beras pada 2026 sempat mencapai puncak 5,4 juta ton, yang disebut sebagai stok tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Hingga 6 Oktober 2026, serapan beras Bulog telah mencapai 4,09 juta ton.
Kondisi tersebut menjadi salah satu modal pemerintah untuk menjaga ketersediaan beras sekaligus mendukung stabilitas harga pangan di berbagai daerah, termasuk NTB.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
