Ia juga menekankan bahwa negara memiliki kewajiban hadir langsung dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat, termasuk pemenuhan gizi.
“Negara ini sudah menciptakan program yang sudah seharusnya didukung penuh oleh rakyat Indonesia. Negara mengambil tanggung jawab sejak putra-putri bangsa masih dalam kandungan ibunya, disaat disusui, sampai selesai sekolah diberikan makan gratis yang bergizi oleh negara. Bahkan, bila sakit pun berobatnya akan ditanggung negara,” lanjutnya.
Muazzim menilai program MBG bukan hanya berdampak pada sektor kesehatan dan pendidikan, tetapi juga memberikan efek positif terhadap perekonomian masyarakat.
Menurutnya, bahan pangan dalam program MBG diwajibkan bersumber dari potensi lokal seperti sayur-mayur, buah-buahan, ikan, daging, dan produk pertanian setempat. Hal ini secara langsung akan menggerakkan sektor pertanian, perikanan, peternakan, hingga UMKM pangan di daerah.
Selain itu, program MBG juga diharapkan mampu mengatasi persoalan klasik ketimpangan gizi yang selama ini dialami keluarga kurang mampu.
Selama ini, keterbatasan ekonomi sering berbanding lurus dengan rendahnya kualitas asupan gizi anak, yang berdampak pada kecerdasan dan prestasi belajar. Melalui MBG, pemerintah ingin memastikan bahwa seluruh anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi, memiliki akses yang sama terhadap makanan sehat dan bergizi.
Sebagai informasi, program MBG merupakan bagian dari strategi nasional pencegahan stunting dan malnutrisi, yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, NTB termasuk provinsi dengan prevalensi stunting yang masih di atas rata-rata nasional.
Melalui MBG, pemerintah menargetkan penurunan angka stunting secara signifikan dengan pendekatan langsung berbasis sekolah, posyandu, dan fasilitas layanan ibu dan anak.
Ke depan, BGN juga merencanakan pembangunan dapur gizi atau sentra produksi makanan sehat di setiap kabupaten/kota, termasuk di Lombok Utara, agar distribusi makanan bergizi dapat berjalan berkelanjutan dan tepat sasaran.
Dengan skema ini, program MBG tidak hanya menjadi intervensi gizi, tetapi juga instrumen pembangunan sosial dan ekonomi menuju terwujudnya generasi emas Indonesia pada tahun 2045.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
