get app
inews
Aa Text
Read Next : Kisah Haru Adam, Anak TKI Lombok yang Hidup Sebatang Kara di Malaysia Akhirnya Kembali Pulang

Bursa Ketua Gerindra NTB Memanas, Mantan Kapolda Hadi Gunawan Diakui Punya Pengalaman Birokrasi

Jum'at, 10 Juli 2026 | 10:46 WIB
header img
Pengamat politik Dr Alfisahrin. (Foto: istimewa)

LOMBOK, iNewsLombok.id - Peta perebutan kursi Ketua DPD Partai Gerindra NTB kian dinamis. Di tengah simpang siur informasi dan spekulasi yang berkembang, sejumlah nama mulai mencuat dalam bursa calon ketua partai, mantan Kapolda NTB Hadi Gunawan muncul.

Pengamat politik Universitas Internasional Bima, Dr Alfisahrin, menilai kemunculan nama-nama baru dari kalangan profesional dan birokrat menunjukkan dinamika demokrasi lokal NTB sedang bergerak.

Alfisahrin menyebut mantan Kapolda NTB Hadi Gunawan sebagai dua figur yang secara kapasitas layak diperhitungkan. Lalu Gita dikenal sebagai birokrat senior dengan pengalaman panjang di pemerintahan NTB, termasuk pernah menjabat Sekda NTB dan Penjabat Gubernur NTB. Sementara Hadi Gunawan memiliki rekam jejak panjang di institusi kepolisian dan pernah memimpin Polda NTB.

“Tokoh seperti Lalu Gita Ariadi dan Hadi Gunawan adalah dua birokrat handal dan punya jejak rekam sukses di birokrasi sehingga secara normatif cocok jadi ketua partai,” katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa pengalaman birokrasi tidak otomatis berbanding lurus dengan kemampuan memimpin partai politik. Menurut dia, kultur birokrasi dan partai merupakan dua arena kekuasaan yang berbeda.

“Tetapi birokrasi dan partai politik punya kultur dan budaya kuasa berbeda. Di birokrasi kental dengan merit sistem, sebaliknya partai politik cenderung klientalistik, personalistik, dan pragmatis. Jadi ketua partai di era modern harus punya kapasitas ganda selain punya kapasitas manajerial organisasi, juga kelenturan membangun relasi teknokratik di birokrasi dan relasi politik luas,” ungkapnya.

Hal yang sama juga ia sematkan kepada Hadi Gunawan. Menurut Alfisahrin, eks Kapolda NTB itu punya modal simbolik, jejaring, dan kapasitas manajerial yang bisa menjadi magnet politik bagi partai.

“Ada prestasi dan rekam jejak dan pengalaman sebagai eks Kapolda NTB. Ini bisa jadi magnet dan gravitasi politik yang kuat bagi partai. Namun, lagi-lagi saya ulangi bahwa histori dan latar belakang tokoh seperti Lalu Gita Ariadi dan Hadi Gunawan sebagai birokrat berprestasi tidak otomatis in line dengan tradisi kepemimpinan dan kultur yang berlaku di partai,” terangnya.

“Tentu saja, ini positif banyak tokoh profesional tertarik masuk politik. Artinya demokrasi lokal NTB berkembang sehat. Namun, secara semiotika politik ini menunjukkan bahwa kompetisi di parpol semakin ketat,” ujarnya.

Menurut Alfisahrin, masuknya figur eksternal ke bursa calon ketua partai bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, hal itu membuka ruang regenerasi dan memperluas basis rekrutmen. Namun di sisi lain, jika preferensi elite pusat hanya mengukur kualitas kader dari tingkat popularitas, maka kader dari luar partai berpotensi lebih diunggulkan dibanding kader internal.

Ia menilai situasi itu dapat terjadi di Gerindra NTB apabila mekanisme rekrutmen di tingkat DPP lebih menitikberatkan pada figur populer ketimbang proses kaderisasi.

“Jika ini terjadi di Gerindra NTB, ini bisa menggerus dan menghambat potensi serta peluang kader internal jadi ketua partai. Saya membaca sejauh ini, ada kesan Gerindra dan Demokrat NTB sebagai partai besar tengah menunjukkan sikap dan gesture hati-hati dalam menjaring figur. Kedua partai tidak ingin cepat gegabah,” terangnya.

Kader Internal Disebut Tak Akan Diam

Di sisi lain, Alfisahrin menilai kader internal di Gerindra maupun Demokrat NTB tentu tidak akan tinggal diam bila kursi ketua partai diisi figur dari luar. Menurut dia, resistensi dari kader merupakan hal yang sangat mungkin terjadi, apalagi sebagian besar kader internal disebut sudah memiliki jagoan masing-masing.

Menurutnya, jika Lalu Gita atau Hadi Gunawan serius ingin masuk dalam kontestasi tersebut, setidaknya ada dua jalur yang bisa ditempuh. Pertama, pola struktural dengan membangun lobi dan mengamankan rekomendasi dari DPP lebih dulu. Kedua, konsolidasi dari bawah dengan merangkul elite partai di tingkat daerah.

“Tetap ada resistensi nanti jika ada kader eksternal masuk. Kecuali Lalu Gita dan Hadi Gunawan pilih dua pola. Satu pola struktural, lobi dan dapatkan rekomendasi DPP pusat dulu (top down) dan kedua, lobi dan konsolidasi elite Gerindra dan Demokrat NTB di daerah (bottom up). Karena suara pengurus daerah juga jadi pertimbangan seorang kader diberikan rekom oleh pusat,” tegasnya.

Gerindra NTB Masih Menunggu Sinyal Pusat

Hingga kini, teka-teki siapa yang akan memimpin Gerindra NTB belum juga terjawab. Belum ada sinyal resmi dari DPP, meski sejumlah elite Gerindra NTB sebelumnya telah berulang kali menyebut nama Lalu Muhamad Iqbal sebagai kader potensial untuk memimpin partai berlambang kepala garuda itu di NTB.

Editor : Purnawarman

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut