LOMBOK, iNewsLombok.id - Tokoh agama sekaligus pimpinan pondok pesantren Al Kamal Lombok Barat, TGH Mahalli Fikri, menyoroti rencana Pemerintah Provinsi NTB yang akan menyalurkan daging kurban dalam bentuk kaleng siap saji. Ia mempertanyakan efektivitas program tersebut, termasuk sumber pendanaan yang digunakan untuk proses pengalengan.
Menurutnya, biaya pengolahan daging kurban menjadi produk kalengan tidaklah murah dan perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik.
“Kalengisasi daging qurban itu tidak murah alias mahal biayanya. Selain itu dananya dari mana? Apakah mau diambil dari zakat, infaq dan sadaqah (ZIS)? Dari APBD kan tidak mungkin tersebab kondisi APBD NTB,” tegasnya, Kamis (28/5/2026).
TGH Mahalli menilai masih ada metode distribusi lain yang lebih sederhana dan murah dibandingkan pengalengan. Salah satunya dengan membekukan daging menggunakan freezer sebelum didistribusikan ke daerah terpencil.
“Kemudian masih ada cara yang lebih murah dan mudah yakni membekukan daging dlm freezer sebelum didistribusi. Jarak keterpencilan daerah/desa yang dihitung atau dianggap terpencil masih tidak terlalu sulit untuk dijangkau dengan kendaraan roda 4 apalagi roda 2, ataupun kuda,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa wilayah-wilayah terpencil di Nusa Tenggara Barat masih dapat dijangkau dalam waktu relatif singkat, sehingga distribusi daging segar dinilai tetap memungkinkan dilakukan.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
