TEHERAN, iNewsLombok.id - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menembak jet tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat, Kamis (19/3/2026) dini hari.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut serangan tersebut dilakukan menggunakan sistem pertahanan udara terbaru mereka di wilayah Iran bagian tengah.
"Jet tempur F-35 militer AS ditembak jatuh pada pukul 02:50 ini oleh sistem pertahanan udara canggih baru dari Angkatan Udara IRGC dan mengalami kerusakan serius," bunyi pernyataan IRGC, seperti dikutip oleh kantor berita Fars, Jumat (20/3/2026).
Menurut klaim tersebut, pesawat tempur generasi kelima itu sedang menjalankan misi serangan di wilayah udara Iran sebelum akhirnya terkena tembakan rudal.
Nasib Pilot Masih Misterius
IRGC tidak memberikan keterangan rinci mengenai kondisi pilot. Namun, disebutkan bahwa kemungkinan kecelakaan cukup tinggi akibat kerusakan serius yang dialami pesawat.
Di sisi lain, versi berbeda disampaikan oleh pihak Amerika Serikat. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pesawat tersebut tidak jatuh, melainkan berhasil melakukan pendaratan darurat di pangkalan militer di kawasan Timur Tengah.
Juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, menjelaskan kondisi pilot dalam keadaan aman.
"Pilot dalam kondisi stabil. Insiden ini sedang diselidiki," ujarnya.
Perbedaan Klaim: Jatuh atau Mendarat Darurat?
Perbedaan pernyataan antara Iran dan Amerika Serikat menunjukkan adanya perang informasi yang sering terjadi dalam konflik modern. Iran mengklaim keberhasilan sistem pertahanan mereka, sementara AS menegaskan bahwa kerusakan tidak menyebabkan kehilangan pesawat.
Meski demikian, kedua pihak sepakat bahwa pesawat tersebut memang terkena tembakan rudal saat menjalankan misi tempur di wilayah udara Iran.
Momen Bersejarah dalam Konflik Iran-AS
Insiden ini disebut sebagai yang pertama dalam sejarah di mana jet tempur siluman F-35 milik AS terkena serangan langsung sejak pecahnya konflik terbaru pada 28 Februari 2026.
F-35 dikenal sebagai salah satu jet tempur paling canggih di dunia, dengan kemampuan stealth (siluman) yang membuatnya sulit dideteksi radar konvensional.
Selain Amerika Serikat, Israel juga mengoperasikan F-35 dalam konflik tersebut, menjadikannya tulang punggung kekuatan udara di kawasan Timur Tengah.
Teknologi dan Dampak Strategis
F-35 Lightning II memiliki nilai lebih dari 100 juta dolar AS per unit, dilengkapi sistem sensor canggih dan kemampuan peperangan elektronik.
Sistem pertahanan udara Iran diduga menggunakan kombinasi radar frekuensi rendah dan rudal jarak menengah, yang dirancang untuk mendeteksi pesawat stealth.
Insiden ini berpotensi mengubah peta strategi militer global, khususnya terkait efektivitas jet siluman dalam menghadapi sistem pertahanan modern.
Pengamat militer menilai kejadian ini bisa memicu eskalasi konflik lebih luas jika kedua pihak tidak menahan diri.
Pasar global, terutama sektor energi, juga berpotensi terdampak jika konflik Iran-AS terus memanas, mengingat kawasan Timur Tengah merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.
Insiden penembakan jet tempur F-35 oleh Iran menjadi salah satu peristiwa penting dalam dinamika konflik Timur Tengah 2026. Meski terdapat perbedaan klaim antara Iran dan Amerika Serikat, kejadian ini menegaskan bahwa perang modern tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga dalam narasi dan informasi.
Dunia kini menanti hasil investigasi lebih lanjut untuk memastikan fakta sebenarnya di balik insiden tersebut, sekaligus mengukur dampaknya terhadap stabilitas global.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
