Dr. Alfisahrin, M.Si
Dosen Universitas Bima Internasional
Saya masih ingat dengan baik sekali ketika Francis Fukuyama dalam The Clash Of Civilisation (1996) menyebutkan bahwa identitas budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama di dunia pasca perang dingin. Konflik dan perang di era modern tidak lagi semata-mata didominasi oleh ideologi atau ekonomi melainkan karena perbedaan budaya dan peradaban.
Apa yang terjadi pada konflik Iran dan Amerika yang kini kembali menghangat seakan memiliki relevansi epistemik dan kontekstual dengan argumen Francis Fukuyama. Perang antar negara tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan militer an sich melainkan juga perang wacana, opini, dan paradigma.
Barat masih konsisten pada argumen dan optik etnosentrisme terhadap Timur. Streotype dan stigma pada nilai, ideologi, budaya dan sistem politik yang dianut pada negara-negara muslim seperti Iran, Saudi Arabia, dan Irak dipandang Barat tidak lagi bersesuaian dengan nilai dan kebebasan universal yang berlaku di Barat.
Kemajuan, kebebasan, kesetaraan dan transformasi peradaban di dunia Timur hanya dapat dicapai seperti di dunia Barat dapat dicapai. Jika demokrasi, gaya hidup, dan kebebasan juga diterapkan seperti yang berlaku di Barat.
Bagi Barat, dunia Timur identitik dengan ketertinggalan, kebodohan, dan kemiskinan, Timur diciptakan sebagai entitas yang berbeda oleh Barat melalui bahasa, teks dan representasi sehingga timur atau orient tampak irasional, mistis, statis, dan inferior di bandingkan dengan Barat yang rasional, modern, dan progresif.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
