“Dinamika atmosfer saat ini memang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Indonesia, namun dengan kesiapsiagaan yang baik dan terus memantau informasi resmi dari BMKG, kita dapat meminimalisir risiko bencana,” tuturnya.
Bibit Siklon dan Monsun Asia Jadi Pemicu Utama
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menerangkan bahwa salah satu faktor utama pemicu cuaca ekstrem adalah keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia. Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum 15 knot (28 km/jam) dengan tekanan minimum 1001 hPa.
“Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, yang dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” kata Andri.
Selain itu, Monsun Asia juga menguat hingga 23 Januari 2026, disertai seruakan udara dingin (cold surge) dari daratan Asia. Fenomena ini meningkatkan kecepatan angin di Laut Cina Selatan dan mendorong suplai uap air ke wilayah Indonesia bagian selatan.
Peran MJO dan Gelombang Atmosfer
BMKG juga mencatat adanya kontribusi dari Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin yang diperkuat oleh nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif.
Kondisi ini menandakan peningkatan awan Cumulonimbus, yang menjadi pemicu hujan lebat, petir, dan angin kencang.
Faktor tersebut diperparah oleh kelembapan udara tinggi pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer serta labilitas atmosfer yang kuat, sehingga cuaca ekstrem berpotensi terjadi secara bergantian di berbagai daerah.
Wilayah Terdampak Hingga Akhir Januari
BMKG memetakan potensi cuaca ekstrem sebagai berikut:
21 Januari 2026: Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
22 Januari 2026: Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
23 Januari 2026: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT.
24 Januari 2026: Jawa Tengah dan Jawa Timur.
25–26 Januari 2026: Bali, NTB, dan NTT.
Imbauan untuk Masyarakat
BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu.
“BMKG meminta masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang berlangsung cepat. Masyarakat diharapkan berhati-hati dalam merencanakan aktivitas luar ruang, perjalanan darat, laut, maupun udara,” katanya.
BMKG juga menganjurkan pemerintah daerah menyiapkan rencana kontinjensi bencana, memastikan saluran drainase bersih, serta mengaktifkan posko siaga bencana di wilayah rawan banjir dan longsor.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
