Pengamat: Pertumbuhan Ekonomi NTB 7,39 Persen Menyimpan Paradoks, Tanpa Tambang Hanya 3,73 Persen
LOMBOK, iNewsLombok.id - Pusat Kajian dan Analisis Ekonomi Nusantara (PKAEN) menilai pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar 7,39 persen pada Triwulan III-2026 sebagai capaian positif yang tetap perlu dibaca secara kritis. Di balik angka pertumbuhan tersebut, terdapat persoalan struktural yang patut menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama tingginya ketergantungan terhadap sektor pertambangan dan belum optimalnya penguatan sektor ekonomi rakyat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, ekonomi NTB tumbuh 7,39 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Triwulan III-2026. Namun, pertumbuhan ekonomi tanpa memperhitungkan sektor pertambangan hanya mencapai 3,73 persen. Perbedaan ini memperlihatkan besarnya kontribusi sektor pertambangan terhadap akselerasi ekonomi daerah.
Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik PKAEN, Edo Segara Gustanto, menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB masih menghadapi tantangan diversifikasi dan ketahanan struktur ekonomi.
"Pertumbuhan 7,39 persen tentu patut diapresiasi. Namun, ketika pertumbuhan tanpa sektor pertambangan hanya mencapai 3,73 persen, kita perlu melihat lebih jauh bagaimana kondisi fundamental ekonomi NTB. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi terlihat tinggi, tetapi sektor-sektor yang menjadi sumber penghidupan mayoritas masyarakat belum tumbuh dengan kekuatan yang sebanding," ungkap Edo, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, tingginya pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian yang mencapai 30,23 persen secara tahunan menunjukkan bahwa aktivitas industri ekstraktif menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi NTB. Optimalisasi operasional smelter dan peningkatan produksi konsentrat tembaga memang memberikan kontribusi terhadap peningkatan nilai tambah dan ekspor.
Editor: Purnawarman