Terpilih Aklamasi, Alfian Eikman Ungkap Prioritas Baru PBSI NTB 2026-2030
Namun, tantangan menuju ajang olahraga nasional tersebut tidak ringan. Regulasi baru yang mengharuskan tuan rumah tetap mengikuti babak kualifikasi atau Pra-PON membuat PBSI NTB harus melakukan perhitungan secara lebih matang.
Alfian pun memilih tidak memasang target yang terlalu tinggi. Ia menilai persaingan cabang olahraga bulutangkis di tingkat nasional sangat ketat sehingga target medali harus disesuaikan dengan kondisi dan kekuatan atlet NTB.
”Kalau untuk target emas, bahkan perak pun itu NTB masih berat lah di PON ini. Target muluk-muluk paling mungkin kalaupun bisa perunggu, itu pun juga masih sangat berat,” jelasnya.
Persoalan lain yang dihadapi PBSI NTB adalah keberadaan sejumlah atlet daerah yang kini menjalani pembinaan di klub-klub besar di luar NTB.
Pemanggilan atlet tersebut tidak selalu mudah karena PBSI NTB harus mendapatkan izin dari klub tempat atlet menjalani latihan. Restu klub menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan atlet dapat memperkuat kontingen NTB dalam ajang nasional.
Dalam proses pemilihan Ketua Pengprov PBSI NTB, PP PBSI menegaskan tidak melakukan intervensi terhadap hak suara pengurus kabupaten dan kota.
Wakil Ketua Umum II PP PBSI, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara, menyampaikan hal tersebut saat membuka Musprov PBSI NTB.
”Pengurus pusat dalam penyelenggaraan musyawarah provinsi tidak akan pernah mengintervensi kedaulatan pengurus kabupaten atau kota sebagai pemegang suara,” ungkap Yudanegara.
PP PBSI juga memberikan apresiasi terhadap kepengurusan PBSI NTB periode 2022-2026. Pelaksanaan Musprov sebelum masa kepengurusan sebelumnya berakhir dinilai menunjukkan kepatuhan terhadap aturan organisasi dan AD/ART PBSI.
Yudanegara mengingatkan bahwa menjadi bagian dari kepengurusan PBSI bukan sekadar jabatan, tetapi juga bentuk pengabdian yang membutuhkan komitmen serta pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran.
Kepengurusan baru PBSI NTB di bawah Alfian Eikman diharapkan mampu menjaga soliditas organisasi sekaligus memperkuat pembinaan atlet dari tingkat klub hingga kabupaten dan kota.
Dengan kalender kompetisi yang lebih teratur, pembinaan yang terukur, serta persiapan PON yang realistis, PBSI NTB dituntut membangun fondasi prestasi yang lebih kuat menjelang PON 2028.
Editor: Purnawarman