Bandara Lombok Simulasikan Pesawat Alami Gangguan Hidrolik hingga Keluar Runway
Kondisi tersebut kemudian membuat Air Traffic Control (ATC) menetapkan status Full Emergency atau Siaga II.
Situasi berkembang menjadi Aircraft Accident atau Siaga III setelah pesawat dalam skenario latihan mengalami runway excursion saat melakukan pendaratan.
Skenario tersebut dirancang untuk menguji kemampuan berbagai unsur dalam merespons insiden secara terkoordinasi, mulai dari penerimaan informasi awal, mobilisasi personel dan peralatan, hingga penanganan korban. Latihan difokuskan pada tiga modul utama, yakni Raising the Alarm, Rendezvous Point (RVP), dan Medical Services.
Ketiga modul tersebut digunakan untuk menguji efektivitas sistem komunikasi, koordinasi antarinstansi, mobilisasi sumber daya, serta penanganan korban berdasarkan prosedur yang tercantum dalam Airport Emergency Plan (AEP).
Dalam penanganan keadaan darurat penerbangan, AEP menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan setiap unsur mengetahui peran, tanggung jawab, jalur komunikasi, serta prosedur yang harus dijalankan ketika terjadi insiden di bandar udara.
Latihan ini melibatkan sejumlah anggota Airport Emergency Committee, di antaranya AirNav Indonesia Cabang Lombok, Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Mataram, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
Selain melaksanakan simulasi, kegiatan tersebut juga menjalani proses evaluasi. Tim Evaluasi Terpadu yang terdiri dari PT Angkasa Pura Indonesia (Persero), AirNav Indonesia, dan Balai Kekarantinaan Kesehatan melakukan penilaian terhadap pelaksanaan latihan.
Evaluasi tersebut menjadi bagian dari prinsip continuous improvement untuk mengidentifikasi berbagai hal yang masih perlu diperbaiki, baik dari aspek komunikasi, koordinasi, kesiapan personel maupun efektivitas prosedur penanganan keadaan darurat.
Melalui latihan secara berkala, pengelola bandara dapat menguji kesiapan rencana tanggap darurat sekaligus memastikan personel dan instansi terkait tidak hanya memahami prosedur secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya ketika menghadapi situasi sebenarnya.
BIZAM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat budaya keselamatan (safety culture) di lingkungan bandar udara.
Penguatan tersebut dilakukan melalui peningkatan kompetensi personel, pengujian prosedur kedaruratan, serta penguatan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam operasional dan penanganan keadaan darurat.
Dengan kesiapsiagaan yang terus ditingkatkan, respons terhadap keadaan darurat di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid diharapkan dapat berlangsung cepat, tepat dan terkoordinasi, sehingga risiko dapat diminimalkan serta keselamatan dan perlindungan pengguna jasa tetap menjadi prioritas utama.
Editor : Purnawarman