Israel Evakuasi Ribuan Korban Usai Serangan Balasan Iran, Iron Dome Dinilai Mulai Kewalahan
Empat Gelombang Rudal dalam Lima Jam
Laporan media internasional menyebutkan militer Israel menghadapi beberapa serangan berturut-turut dalam waktu singkat.
Mengutip laporan Gulf News, militer Israel menyatakan sistem pertahanan udara mereka merespons setidaknya empat gelombang rudal yang diluncurkan dari Iran dalam rentang sekitar lima jam.
Peringatan darurat diaktifkan di berbagai wilayah, termasuk kota-kota besar seperti:
Tel Aviv
Haifa
Beersheba
Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel menginstruksikan warga untuk segera berlindung di ruang aman atau bunker.
Setelah situasi dinilai terkendali, militer Israel menyatakan:
"sekarang diizinkan untuk meninggalkan ruang terlindungi di semua wilayah negara."
Media Israel melaporkan sebagian besar rudal berhasil dicegat, namun beberapa di antaranya tetap mencapai wilayah perkotaan dan menimbulkan kerusakan bangunan.
Dampak konflik regional juga dirasakan di negara tetangga. Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menyebutkan jumlah korban tewas di Lebanon meningkat menjadi 394 orang, termasuk 83 anak-anak.
Selain itu, lebih dari 1.130 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat eskalasi militer yang terus berlangsung di kawasan tersebut.
Di sisi lain, serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran juga memicu korban besar di kalangan sipil.
Menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Iran, lebih dari 1.200 orang telah meninggal dunia sejak 28 Februari.
Juru bicara kementerian tersebut, Hossein Kermanpour, menyebutkan bahwa di antara korban tewas terdapat sekitar 200 anak-anak dan hampir 200 perempuan.
Selain itu, lebih dari 1.000 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk sekitar 400 perempuan.
Iron Dome Mulai Dipertanyakan
Sistem Iron Dome selama ini menjadi simbol kekuatan pertahanan Israel karena mampu mencegat sebagian besar roket jarak pendek.
Namun meningkatnya jumlah rudal balistik dan drone berteknologi baru dari Iran membuat sistem tersebut menghadapi tekanan besar. Para analis militer menyebut bahwa serangan berlapis dan jumlah proyektil yang besar dapat membuat sistem pertahanan udara kewalahan.
Jika eskalasi terus meningkat, konflik ini berpotensi meluas menjadi konfrontasi regional besar yang melibatkan beberapa negara di Timur Tengah.
Editor : Purnawarman