Rupiah Mendekati Rp17.000, Menkeu Purbaya: Depresiasi Masih Wajar dan Ekonomi Tetap Stabil
JAKARTA, iNewsLombok.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Menurutnya, kondisi tersebut masih berada dalam batas wajar dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
“Kalau pelemahan kan dilihat dari persentase kan sedikit kan dibanding level sebelumnya. Jadi harusnya sistem kita terjaga. Jadi kemungkinan dampak ke ekonomi akan minimum,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (20/1/2026).
Purbaya menjelaskan, secara year-to-date (ytd), rupiah hanya melemah sekitar 2–3 persen, angka yang masih sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Ia menilai, tekanan nilai tukar saat ini lebih disebabkan oleh faktor global, seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan penguatan dolar AS di pasar dunia.
Meski rupiah melemah, pasar saham justru menunjukkan sentimen positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat, menandakan kepercayaan investor masih terjaga.
“Yang penting adalah gini, ketika pondasi ekonomi kita terus membaik, aktivitas ekonomi dalam negeri akan meningkat, orang akan melihat ekonomi kita bagus, investor akan balik lagi ke sini termasuk investor asing. Anda lihat pasar modal kan naik kan? Pasar modal nggak mungkin naik kalau nggak ada investor asing atau investor domestik masuk ke sini juga,” tuturnya.
Dari sisi pasokan valuta asing, Purbaya memastikan ketersediaan dolar AS di pasar domestik masih aman. Hal ini didukung oleh cadangan devisa yang stabil serta masuknya aliran modal dari investor.
“Jadi harusnya kalau lihat dari sisi supply dolar harusnya nggak kekurangan,” katanya.
Ia juga mengimbau pelaku pasar untuk tidak berspekulasi berlebihan terhadap pergerakan nilai tukar, karena dapat memperbesar tekanan yang tidak sesuai dengan kondisi fundamental.
Terkait pengaruh terhadap APBN, khususnya pada subsidi energi, Purbaya menilai posisi fiskal masih relatif aman. Ia menyebut kenaikan nilai tukar masih sejalan dengan asumsi makro, sementara harga minyak dunia berada di bawah proyeksi pemerintah.
“Dolarnya naik berapa sih, nggak jauh beda dengan asumsi APBN kita dan harga minyaknya kan di bawah asumsi APBN. Jadi subsidinya ya gampangnya relatif terkendali selama ini,” kata Purbaya.
Pengamat ekonomi menilai pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal, seperti ketidakpastian global dan arus modal ke aset aman (safe haven).
Bank Indonesia juga terus melakukan stabilisasi melalui intervensi pasar, termasuk pengelolaan likuiditas dan operasi moneter, guna menjaga kepercayaan pasar.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terjaga, pemerintah optimistis stabilitas ekonomi nasional tetap kuat meski rupiah mengalami tekanan jangka pendek.
Editor : Purnawarman