Pariwisata dan Budaya Tidak Bisa Dipisahkan
Fikri menilai pengembangan pariwisata Lombok tidak dapat dilepaskan dari pelestarian budaya. Menurutnya, kekuatan Desa Adat Sade justru terletak pada perpaduan antara kehidupan masyarakat, tradisi, arsitektur rumah adat, kerajinan, dan nilai budaya Sasak yang masih hidup hingga kini.
"Karena bagaimanapun pariwista tidak akan bisa berkembang jika tidak di gandeng dengan Budaya," ungkapnya.
Ia menegaskan Desa Sade bukan sekadar destinasi wisata, melainkan aset budaya yang memiliki nilai sejarah dan menjadi salah satu ruang hidup masyarakat Sasak.
"Dan desa sade tidak hanya menjadi icon tapo merupaka aset negara yang mempertahankan Budaya Sasak, asat Lombok yang mempertahankan Nilai nilai budaya Lombok yang begtu luas dan Indah," tegasnya.
Menurut Fikri, rekonstruksi pascakebakaran harus dilakukan secara hati-hati agar pembangunan kembali tidak justru menghilangkan karakter asli Desa Adat Sade.
Rekonstruksi Harus Libatkan Tokoh Adat dan Agama
Fikri meminta pemerintah melibatkan seluruh unsur masyarakat dalam proses rekonstruksi, mulai dari budayawan, tokoh adat, tokoh agama, hingga masyarakat setempat.
" Sehingga dalam rekontruksi Desa sade, saya mengharapkan pak Gubernur mengundang semua kalangan baik budayawan dan tokoh agama dalam merekontruksi desa sade sehingga dalam pembangunannya tidak ada nilai-nilai buaya yang hilang," terangnya.
Ia menilai keterlibatan masyarakat adat menjadi penting karena Desa Sade merupakan kawasan yang masih mempertahankan tradisi Sasak secara turun-temurun. Karena itu, pembangunan kembali tidak cukup hanya berorientasi pada fisik bangunan, tetapi juga harus mengembalikan nilai, pengetahuan, tradisi, serta aktivitas budaya yang terdampak kebakaran.
75 Rumah Adat dan 69 Artshop Terdampak
Berdasarkan laporan awal Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lombok Tengah, kebakaran terjadi sekitar pukul 22.14 WITA pada Sabtu (22/8/2026). Sebanyak 120 kepala keluarga atau sekitar 320 jiwa tercatat terdampak.
Pendataan awal mencatat 75 rumah adat, satu masjid, empat berugak sekenam besar, enam berugak sekepat, delapan lumbung alang, 69 artshop, satu Bale Belek, satu toilet umum wisatawan, satu gerbang Desa Adat Sade, dan satu pelonggo terdampak.
Jika dijumlahkan berdasarkan kategori pendataan awal, terdapat 167 unit/objek yang terdampak. Data tersebut masih dapat berubah setelah proses asesmen lapangan selesai.
Pemerintah Provinsi NTB juga mencatat sejumlah benda budaya ikut musnah, antara lain perangkat gamelan, alat presean, pusaka, tenunan lama, perlengkapan ritual, hingga sejumlah naskah atau lontar. Data tersebut masih dalam proses verifikasi.
Kondisi itu membuat pemulihan Desa Adat Sade tidak hanya membutuhkan pembangunan kembali rumah warga, tetapi juga upaya menyelamatkan pengetahuan dan warisan budaya yang ikut terdampak.
Gubernur NTB Sudah Siapkan Rekonstruksi
Desakan agar pemerintah segera melakukan rekonstruksi sebelumnya juga telah disampaikan langsung Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. Setelah tiba dari Nusa Tenggara Timur, Iqbal langsung menuju lokasi kebakaran ketika proses pemadaman masih berlangsung.
Gubernur mengatakan pemerintah akan berkoordinasi dengan Bupati Lombok Tengah dan pihak terkait untuk menyusun langkah pemulihan dan rekonstruksi Desa Adat Sade.
"Saya akan segera berkomunikasi dengan Bupati Lombok Tengah untuk mengambil langkah cepat dan tepat. Nanti kita pikirkan bagaimana merekonstruksi kembali Desa Adat Sade," ujarnya.
Pemkab Lombok Tengah juga menyatakan penataan kembali Sade harus tetap menjaga nilai adat dan budaya, sekaligus menjadi momentum evaluasi terhadap tata ruang permukiman, akses penanganan darurat, dan mitigasi kebakaran.
Sementara itu, Dinas Kebudayaan NTB menekankan bahwa pemulihan Sade tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Masyarakat adat, pemerintah, dan lembaga pelestarian budaya akan dilibatkan untuk mendokumentasikan pengetahuan para tetua, tradisi, ritual, arsitektur, tenun, seni, dan sejarah masyarakat Sade.
Bagi Fikri, langkah tersebut menjadi penting agar Desa Adat Sade dapat kembali menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus destinasi wisata budaya yang mempertahankan identitas Sasak.
Desa Adat Sade sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya utama Lombok. Indonesia Travel mencatat kawasan ini memiliki sekitar 150 rumah adat dan masyarakatnya masih mempertahankan tradisi Sasak yang diwariskan selama sekitar 15 generasi.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
