Oleh: Latif Kamaludin, S. Sos
Staf Bimas Islam Kemenag Ende
Bulan Rabiul Awal kembali hadir. Bulan di mana semesta bersaksi atas kelahiran manusia paling mulia, Sayyidina Muhammad.
Tahun ini Rabiul Awal datang di saat tanah Flores masih bergetar. Gempa M 7,7 menyisakan luka. Ada saudara kita yang malam ini harus tidur di tenda darurat, bernaung di bawah terpal usang, berbaring di tanah bebatuan. Hati cemas dan was-was, galau bercampur baur. Takut kalau tiba-tiba bumi kembali berguncang. Anak-anak menangis, trauma melihat rumah roboh.
Di tengah reruntuhan dan tangis itulah kita memperingati Maulid. Pertanyaannya: "Apa sebenarnya hikmah gempa ini? Dan apa makna kelahiran Nabi bagi kami yang sedang terluka?"
Maulid secara bahasa berarti kelahiran. Secara makrifat, Maulid adalah panggilan untuk "melahirkan kembali" cahaya Nabi di dalam hati dan aksi nyata kita. Karena Nabi diutus sebagai rahmat:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Wa maa arsalnaaka illaa rahmatal lil ‘aalamiin
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam" ( QS. Al-Anbiya: 107)
1. TANDA AGUNG: RUNTUHNYA BERHALA DAN BANGUNNYA KESADARAN
Para ulama mencatat, malam kelahiran Nabi ditandai runtuhnya 14 menara Istana Kisra, padamnya api Majusi, dan berguncangnya berhala di Ka’bah (As-Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, Jilid 1 Hal. 155, Darul Fikr 1998).
Allah berfirman:
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ
Bal naqdzifu bil haqqi ‘al baathili fayadmaghuhu fa idzaa huwa zaahiq_
"Bahkan Kami melemparkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya"( QS. Al-Anbiya: 18)
Gempa juga "meruntuhkan". Meruntuhkan rumah, meruntuhkan rasa aman, meruntuhkan kesombongan kita yang merasa kuat.
Hikmahnya: Allah sedang mengingatkan. Bahwa yang kita banggakan bisa hilang sekejap. Yang abadi hanya Allah dan amal.
Makrifat Maulid mengajak kita meruntuhkan "berhala" di hati: ego, dengki, dan cuek. Lalu menggantinya dengan kepedulian, gotong royong, dan cinta.
2. NUR MUHAMMAD: CAHAYA DI TENGAH GELAPNYA PENGUNGSIAN
Rasulullah bersabda:
أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ نُورِي
Awwalu maa khalaqallahu nuurii
"Yang pertama kali Allah ciptakan adalah cahayaku"HR. Abdurrazaq No. 20877(Al-Mushannaf, Abdurrazaq bin Hammam, Jilid 11 Hal. 225, Darul Kutub Ilmiyah 1983)
Bayangkan malam di pengungsian. Gelap. Dingin. Anak kecil memeluk ibunya ketakutan. Orang tua terjaga karena trauma.
Di saat seperti inilah "Nur Muhammad" paling dibutuhkan. Bukan hanya cahaya lampu, tapi cahaya ketenangan, cahaya harapan, cahaya persaudaraan.
Cahaya itu hidup ketika kita duduk menemani yang ketakutan, mengusap kepala anak yang trauma, dan berkata: "Allah bersama kita. Kita tidak sendiri".
Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Khairunnaasi anfa’uhum linnaas"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain"_ (HR. Ahmad No. 12251)
3. HIKMAH GEMPA: PELAJARAN DARI SANG RAHMAT
Apa sebenarnya hikmah gempa ini? Secara makrifat ada 3:
1. Pengingat Kelemahan Manusia.
Gempa mengajari kita tawadhu. Bahwa kita lemah di hadapan Allah. Sama seperti Nabi diutus untuk mengembalikan manusia kepada fitrah: rendah hati dan bergantung kepada Allah.
2. Ujian untuk Menyaring Cinta.
Di saat sulit, akan terlihat siapa yang benar-benar peduli. Inilah ujian cinta kepada sesama, sebagaimana cinta kepada Nabi diuji dengan pengorbanan.
3. Panggilan untuk Kembali kepada Akhlak.
Allah mengguncang bumi agar hati kita terguncang juga. Agar kita kembali lembut, kembali peduli, kembali menjadi rahmat.
Nabi bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Innamaa bu’itstu li utammima makaarimal akhlaaq"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia" (HR. Ahmad No. 8952)
Maka Maulid tahun ini jangan hanya di masjid. Tapi di tenda pengungsian, di posko kemanusiaan, di setiap tangan yang saling menggenggam.
4. HIKMAH PARA DARMAWAN: UNDANGAN ALLAH UNTUK BERBAGI
Di tengah duka ini, kita menyaksikan keajaiban lain: berdatangannya para darmawan. Ada bantuan dari dalam negeri, luar negeri, maupun inisiatif lokal yang spontan mencari pahala dengan memberikan bantuan sosial kepada warga terdampak.
Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang hatinya telah diketuk oleh Allah. Allah mengundang mereka agar dengan keikhlasan mengembalikan titipan rezeki-Nya kepada saudara yang sedang terluka.
Allah berfirman:
مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
Man dzal ladzi yuqridhullaha qardhan hasanan fayudha'ifahu lahu adhfaan katsirah
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak" (QS. Al-Baqarah: 245)
Bantuan mereka bukan sekedar nasi, selimut, atau uang. Itu adalah tanda Allah masih sayang kepada Flores. Allah titipkan rezeki lebih kepada sebagian hamba, agar diuji: maukah ia berbagi?
Rasulullah bersabda:
مَا نَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ
Maa naqasha maalun min shadaqah
"Harta tidak akan berkurang karena sedekah" (HR. Muslim No. 2588)
Maka kepada para donatur, relawan, dan semua yang bergerak: ketahuilah. Ini undangan Allah. Ini jalan menuju cinta Nabi. Karena Nabi paling dermawan di bulan Rabiul Awal.
5. 4 TANDA CINTA MAKRIFAT PASCA GEMPA
1. Shalawat sebagai Obat:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ
Innallaaha wa malaa ikatahuu yushalluuna ‘alan nabiy
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi" ( QS. Al-Ahzab: 56) Menenangkan hati yang trauma dan cemas.
2. Sunnah dalam Peduli: Lemah lembut kepada penyintas. Meneladani Nabi yang tidak pernah membentak dan selalu menguatkan.
3. Menjadi Rahmat: Hadir di tengah luka. Menghapus air mata, bukan menambah beban. Inilah implementasi "Rahmatan lil ‘Alamin".
4. Meruntuhkan Berhala Diri: Sadar bahwa harta dan rumah bisa hilang. Yang kekal adalah amal. Sebagaimana diajarkan dalam tasawuf untuk tazkiyatun nafs. (Al-Burdah, Imam Al-Bushiri, Syarah Al-Bajuri, 42.1990).
Allah juga memerintahkan:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanah"Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu" (QS. Al-Ahzab: 21)
Saudaraku...
Rumah bisa runtuh, harta bisa hilang, tapi iman, cinta, dan persaudaraan tidak boleh runtuh.
Mungkin malam ini kita masih tidur dengan was-was di bawah terpal. Anak-anak masih menangis ketakutan. Tapi ingat, Nabi lahir di tengah dunia yang gelap dan penuh ketakutan. Beliau datang membawa terang.
Dan terang itu kini hadir lewat tangan-tangan para darmawan. Lewat setiap bantuan yang ikhlas. Lewat setiap pelukan untuk anak yang trauma. Lewat setiap doa yang dipanjatkan di tenda darurat.
Mari kita jadikan Maulid 1448 H ini sebagai titik balik. Membangun kembali Flores bukan hanya dengan semen dan baja, tetapi dengan akhlak Nabi Muhammad.
Mari kita tutup dengan doa:
اللَّهُمَّ نَوِّرْ قُلُوبَنَا بِنُورِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَ سُنَّتِهِ_
Allahumma nawwir quluubanaa bi nuuri nabiyyika Muhammad, warzuqnat tibaa’a sunnatih
"Ya Allah, terangilah hati kami dengan cahaya Nabi-Mu Muhammad, dan karuniakan kepada kami kemampuan mengikuti sunnahnya" Aamiin.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan 4 hal:
1. Gempa adalah bahasa cinta Allah.
Ia meruntuhkan agar kita sadar. Meruntuhkan agar kita kembali. Sebagaimana kelahiran Nabi meruntuhkan kebatilan.
2. Maulid adalah energi pemulihan. Cahaya Nabi harus dihidupkan bukan hanya dengan shalawat, tetapi dengan menemani yang trauma, menguatkan yang lemah, dan berbagi di tengah kekurangan.
3. Para darmawan adalah bukti rahmat Allah. Kehadiran mereka adalah undangan Allah agar rezeki yang dititipkan kembali mengalir kepada yang membutuhkan. Ini sedekah yang dilipatgandakan QS. Al-Baqarah: 245.
4. Akhlak Nabi adalah solusi. Di tengah tenda darurat dan rasa takut, yang paling dibutuhkan umat adalah akhlak: kasih sayang, ketenangan, dan kepedulian. Inilah esensi "Rahmatan lil ‘Alamin".
Dengan demikian, peringatan Maulid tahun ini di Flores bukan sekedar seremonial, tetapi gerakan spiritual dan sosial untuk bangkit bersama dari reruntuhan.
_Wallahu A'lam Bishawab._ []
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
