Bantuan yang diberikan pemerintah pada tahap awal berupa bibit tanaman dan sarana pendukung budidaya. Bibit tersebut kemudian dikembangkan anggota kelompok menjadi beragam tanaman pangan sesuai kondisi lahan.
Tidak hanya tanaman hortikultura, kelompok PEKKA juga mengembangkan budidaya jamur menggunakan bahan dasar tongkol atau janggel jagung.
Menurut Afgan, pengembangan jamur tersebut sekaligus menjadi upaya menghidupkan kembali keterampilan anggota kelompok yang sebelumnya pernah menjalankan usaha serupa.
“Pembuatan jamur janggel jagung juga kita support dengan memberikan gonggol jagung. Mereka sebenarnya sudah punya pengalaman, namun tidak bisa lagi memproduksi. Sekarang kita gerakkan lagi dan kita hidupkan lagi,” ujarnya.
Transformasi lahan tidak produktif menjadi kebun pangan mulai menunjukkan hasil. Sayuran yang dipanen tidak hanya digunakan untuk konsumsi anggota kelompok, tetapi sebagian dijual untuk menambah pendapatan kelompok.
Anggota Kelompok PEKKA, Sumarni, mengatakan lahan tersebut sebelumnya belum dimanfaatkan untuk kegiatan bercocok tanam.
“Sebelumnya kita belum pernah tanam apa-apa di sini. Setelah dikasih bibit dan mulsa, kita mulai tanam. Hasilnya kita jual, kemudian uangnya kita beli bibit lagi untuk ditanam kembali,” kata Sumarni.
Pola tersebut membuat hasil penjualan dapat diputar kembali untuk mendukung kegiatan produksi. Dengan demikian, kebun tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi juga mulai diarahkan menjadi kegiatan ekonomi kelompok.
Selain sayuran, produksi jamur janggel jagung juga mendapat respons positif dari masyarakat. Jamur tersebut dijual dengan harga sekitar Rp40 ribu per kilogram.
Sumarni menyebut permintaan terhadap jamur bahkan telah muncul sebelum seluruh hasil produksi selesai dipanen.
“Banyak peminatnya. Sebelum kita panen semua, sudah banyak yang pesan,” ujarnya.
Kondisi itu menjadi indikasi bahwa produk pangan yang dihasilkan dari pemanfaatan lahan dapat memiliki peluang pasar apabila dikelola secara konsisten.
Pemanfaatan lahan pekarangan juga memiliki manfaat ganda. Rumah tangga dapat memperoleh sebagian bahan pangan dari hasil budidaya sendiri sekaligus mengurangi pengeluaran untuk membeli sayuran dan komoditas tertentu.
Pemerintah Dorong Pekarangan Rumah Ikut Produktif
Afgan mengatakan, pemanfaatan lahan produktif tersebut diharapkan tidak berhenti pada lahan kelompok. Pemerintah juga mendorong anggota PEKKA menanam komoditas pangan di pekarangan rumah masing-masing.
Jumlah anggota PEKKA yang disebut mencapai sekitar 1.500 orang menjadi potensi besar untuk memperluas gerakan pemanfaatan pekarangan di Lombok Barat.
Menurut Afgan, lahan yang tersedia di sekitar rumah tidak harus luas. Pekarangan dengan ruang terbatas tetap dapat dimanfaatkan untuk menanam komoditas yang mudah dibudidayakan.
“Apa yang masih bisa kita tanam dan kita petik di halaman, kita tanam. Cabai, tomat, sayur-sayuran lainnya upayakan tanam di pekarangan. Buktinya bisa tumbuh, bisa menghasilkan uang, bukan sekadar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari tapi juga bisa dijual,” katanya.
Konsep tersebut sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan dari tingkat keluarga. Produksi pangan skala rumah tangga dapat menjadi langkah sederhana untuk memenuhi sebagian kebutuhan konsumsi sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat berencana memperkuat kolaborasi dengan organisasi perangkat daerah terkait, terutama dalam menangani hasil produksi setelah panen.
Pengolahan produk, peningkatan kualitas, pengemasan hingga pemasaran menjadi bagian penting apabila volume produksi kelompok terus bertambah.
Langkah tersebut diperlukan agar hasil budidaya tidak hanya berhenti pada produksi, tetapi memiliki nilai jual yang lebih baik.
Afgan berharap keberhasilan kelompok PEKKA memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat ditiru kelompok masyarakat lainnya.
“Saya berharap kepada semua rumah tangga agar bisa memanfaatkan pekarangan sekecil apa pun dengan menanam tanaman-tanaman sayuran seperti ini,” ujarnya.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, pemanfaatan lahan kosong dan pekarangan berpotensi menjadi salah satu strategi sederhana untuk memperkuat ketersediaan pangan keluarga, mengurangi pengeluaran rumah tangga, sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
