Sebelumnya, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz yang membuat aktivitas kapal di jalur strategis tersebut semakin terbatas. Pemerintah Iran bahkan menyatakan akan mengambil tindakan terhadap kapal yang mencoba melintas tanpa koordinasi.
“Selat tersebut biasanya dilalui seperlima dari pengiriman minyak dan gas alam cair global, dan blokade Teheran selama berbulan-bulan telah membuat harga energi tetap tinggi,” kata Ibrahim.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pasukan negara tersebut sempat mencegah sebuah kapal tanker melintasi Selat Hormuz tanpa koordinasi. Namun, militer AS menyampaikan bahwa kapal komersial masih tetap melakukan pelayaran melalui jalur tersebut.
Inflasi AS Jadi Perhatian Pasar
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan harga produsen AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Mei 2026.
Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar dalam tiga setengah tahun terakhir secara tahunan, dipengaruhi oleh tekanan biaya energi yang masih tinggi.
Kondisi ini membuat investor kembali memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga ketat hingga akhir tahun.
Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 60 persen.
Ekonomi Indonesia Jadi Penopang Rupiah
Dari dalam negeri, sentimen positif datang setelah Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5,0 persen.
Angka tersebut meningkat dibanding perkiraan sebelumnya pada April 2026 yang berada di level 4,7 persen.
Revisi proyeksi itu didorong oleh kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang tumbuh lebih kuat dari ekspektasi. Produk domestik bruto (PDB) tercatat tumbuh 5,6 persen secara tahunan, menjadikannya pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak kuartal II 2021.
Pertumbuhan tersebut terutama didukung konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi mesin utama ekonomi nasional. Faktor pendorongnya antara lain momentum Ramadan dan Idul Fitri, percepatan pembayaran tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur sipil negara (ASN), serta percepatan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sepanjang 2026, konsumsi swasta diperkirakan tumbuh sekitar 5,0 persen dengan dukungan stimulus fiskal pemerintah. Sementara konsumsi pemerintah diproyeksikan meningkat hingga 8,7 persen.
Dari sektor investasi, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada kuartal I 2026 juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan mencapai 6,0 persen.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan mengalami volatilitas, namun berpeluang menguat.
Ia memprediksi rupiah pada perdagangan berikutnya bergerak di kisaran Rp17.860 hingga Rp18.910 per dolar AS. Sementara dalam periode sepekan, rupiah diperkirakan berada pada rentang Rp17.780 hingga Rp18.040 per dolar AS.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
