“Anda tahu? Saya ‘mati’ untuk rakyat saya. Cara mereka bertindak sungguh luar biasa,” katanya.
Video itu tampak direkam secara santai di sebuah kafe, dengan Netanyahu duduk sambil menikmati suasana dan berbincang ringan.
Kemunculan rekaman tersebut dianggap sebagai cara Netanyahu untuk meredam rumor yang sempat beredar luas di berbagai platform media sosial.
Menantang Publik Hitung Jumlah Jari
Pada bagian lain dari video, Netanyahu terlihat mengangkat tangannya ke arah kamera. Gestur tersebut dianggap sebagai sindiran langsung terhadap tudingan sebelumnya mengenai jumlah jarinya.
“Apakah Anda ingin menghitung jari-jari saya? Anda bisa melihatnya di sini dan di sini. Lihat? Bagus sekali,” ucapnya.
Langkah itu diyakini sebagai cara Netanyahu menunjukkan bahwa video sebelumnya bukanlah manipulasi digital seperti yang dituduhkan oleh sebagian warganet.
Perdebatan Soal Deepfake AI
Meskipun video tersebut dimaksudkan untuk meredam rumor, sejumlah pengguna media sosial tetap meragukan keasliannya. Beberapa warganet bahkan mencoba menganalisis rekaman tersebut menggunakan chatbot AI seperti Grok.
Hasil analisis yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa sistem tersebut menilai video itu kemungkinan merupakan deepfake.
Chatbot tersebut bahkan menyebut video tersebut sebagai:
“deepfake Benjamin Netanyahu yang sedang bersantai di kedai kopi sambil membicarakan operasi Iran/Lebanon.”
Dalam analisis yang sama, Grok mengklaim dirinya “100% yakin” bahwa rekaman tersebut merupakan hasil rekayasa AI tingkat lanjut.
Namun demikian, sejumlah pemeriksaan fakta independen yang lebih luas tidak menemukan bukti kuat yang memastikan video tersebut merupakan manipulasi digital.
Fenomena Deepfake Semakin Marak
Para analis teknologi menilai kontroversi ini menunjukkan semakin sulitnya membedakan antara video asli dan rekayasa digital di era kecerdasan buatan. Teknologi deepfake kini mampu meniru wajah, suara, hingga gerakan seseorang dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi.
Karena itu, banyak pakar keamanan digital mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai konten viral di media sosial tanpa verifikasi dari sumber resmi.
Kasus ini juga menjadi contoh bagaimana tokoh publik dapat menjadi sasaran spekulasi atau disinformasi di tengah perkembangan teknologi AI yang pesat.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
