Ekonomi Lombok Timur Menggeliat Saat Hultah NWDI ke-91 di Anjani, Rp30 Miliar Disebut Berputar
Panitia disebut memberikan ruang bagi UMKM untuk memenuhi berbagai kebutuhan penyelenggaraan, mulai dari konsumsi, logistik, penyewaan tenda, suvenir dan atribut hingga jasa transportasi lokal.
Pola tersebut dinilai membuat manfaat ekonomi dari perhelatan Hultah lebih banyak dirasakan masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.
Aktivitas ekonomi juga terlihat di sepanjang jalur menuju arena utama. Pedagang kaki lima, warung makan dan pelaku usaha lainnya mendapatkan tambahan pembeli seiring meningkatnya jumlah jemaah yang datang ke Anjani.
Hultah ke-91 Madrasah NWDI sendiri digelar pada Ahad, 11 Oktober 2026, di Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani, Lombok Timur. Penetapan tanggal tersebut sebelumnya telah diumumkan Pengurus Besar Nahdlatul Wathan.
Rangkaian kegiatan tidak hanya berupa acara puncak. Panitia juga menggelar berbagai kegiatan pendukung. Salah satunya perlombaan yang diikuti sekitar 1.500 peserta dari berbagai lembaga, komunitas dan daerah.
Menjelang puncak Hultah, ribuan warga dan jemaah NW dari berbagai daerah juga bergotong royong membangun tetaring dari anyaman daun kelapa di arena utama. Fasilitas tersebut disiapkan untuk memberikan kenyamanan bagi jemaah selama mengikuti kegiatan.
Sementara pada Sabtu (10/10/2026), puluhan ribu jemaah mengikuti pawai alegoris. Untuk mengantisipasi kepadatan dan menjaga kelancaran kegiatan, Polres Lombok Timur menerjunkan sekitar 220 personel serta melakukan rekayasa lalu lintas di sejumlah titik.
Selain dampak ekonomi langsung, Fikri menilai Hultah NWDI juga memiliki nilai strategis dalam memperkuat citra Lombok Timur sebagai salah satu tujuan wisata religi.
Menurutnya, kemampuan Anjani menjadi tuan rumah kegiatan keagamaan berskala nasional dapat menjadi bagian dari promosi daerah. Arus kedatangan jemaah dari berbagai wilayah Indonesia juga membuka peluang bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk mengenalkan destinasi wisata lainnya.
Hultah Madrasah NWDI telah memasuki usia ke-91. Madrasah NWDI didirikan oleh Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada 1937 dan menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Islam di Nusa Tenggara Barat.
Karena itu, besarnya jumlah jemaah yang hadir dapat menjadi modal sosial sekaligus peluang ekonomi apabila dikolaborasikan dengan promosi destinasi, produk UMKM, kuliner, serta kekayaan budaya Lombok Timur.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, Fikri menilai kegiatan keagamaan berskala nasional seperti Hultah NWDI tidak hanya berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi juga dapat memberikan efek ekonomi yang lebih panjang bagi masyarakat dan memperkuat posisi Lombok Timur dalam peta wisata religi nasional.
Editor: Purnawarman