53 Warga Bilebante Ikuti Hospitality House ITDC, Targetkan Pelayanan Wisata Berkualitas
General Manager The Mandalika, Pari Wijaya, mengatakan kesiapan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan destinasi pariwisata yang berkelanjutan.
"Pengembangan destinasi yang berkelanjutan harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Melalui InJourney Hospitality House, kami ingin membangun budaya hospitality yang kuat di tengah masyarakat sehingga setiap interaksi dengan wisatawan mampu menghadirkan pengalaman yang positif, berkesan, dan mendorong mereka untuk kembali berkunjung. Pada akhirnya, pelayanan yang berkualitas akan memperkuat daya saing destinasi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal," ujar Pari.
Pelatihan IHH Mandalika Batch I 2026 diikuti 53 peserta dari Desa Wisata Hijau Bilebante. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, di antaranya pemandu wisata, pemilik homestay, pengelola destinasi, pelaku UMKM, penjahit, terapis spa, mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga wiraswasta.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan hospitality tidak hanya menyasar pekerja sektor pariwisata secara langsung. Kualitas pelayanan juga perlu dibangun di berbagai lini masyarakat yang bersinggungan dengan aktivitas wisatawan.
Menariknya, pelatihan tersebut turut melibatkan Malik Abdul Aziz, warga desa penyangga The Mandalika yang sebelumnya telah mengikuti Training of Trainer (ToT) InJourney. Setelah memperoleh pelatihan sebagai trainer, ia kini dipercaya untuk membagikan pengetahuan tersebut kepada masyarakat lainnya.
Pola ini menjadi bagian dari pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui transfer pengetahuan dari masyarakat untuk masyarakat. Dengan demikian, peningkatan kapasitas SDM diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat terus berkembang di tingkat komunitas.
Salah satu peserta sekaligus penggerak UMKM Putri Rinjani, Hj. Zainab, menilai pelatihan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai makna hospitality.
"Pelatihan ini membuka wawasan kami bahwa hospitality bukan hanya tentang bersikap ramah, tetapi juga memahami kebutuhan wisatawan dan memberikan pelayanan yang membuat mereka merasa nyaman. Materi yang disampaikan sangat relevan dan bisa langsung diterapkan dalam melayani wisatawan di desa kami. Kami berharap ilmu yang diperoleh dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkenalkan potensi desa wisata kepada lebih banyak orang," ujar salah satu peserta pelatihan.
Program tersebut mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah melalui Dinas Pariwisata serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Pemerintah Kecamatan Pringgarata, dan Pemerintah Desa Bilebante.
Kolaborasi lintas pihak ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan masyarakat sekaligus mendukung pengembangan desa wisata sebagai bagian dari ekosistem pariwisata di sekitar The Mandalika.
Pemilihan Bilebante sebagai lokasi pelatihan memiliki relevansi dengan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Desa Wisata Hijau Bilebante dikenal memiliki sejumlah fasilitas wisata, seperti homestay, bumi perkemahan, Pasar Pancingan, jalur sepeda, kolam renang, serta sentra pelatihan UMKM. Desa ini juga pernah meraih penghargaan desa wisata terbaik dalam ajang Desa Wisata Award 2017.
Pada 2026, Bilebante juga dipercaya mewakili Kabupaten Lombok Tengah dalam penilaian Desa Berprestasi Tingkat Provinsi NTB. Penilaian tersebut mencakup sejumlah aspek, antara lain tata kelola pemerintahan desa, pelayanan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, partisipasi masyarakat, kesehatan, serta infrastruktur.
Di sisi lain, momentum penguatan SDM ini bertepatan dengan persiapan NTB menyambut Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026. Ajang MotoGP tersebut dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit. Kalender resmi MotoGP juga menetapkan Mandalika sebagai salah satu seri dalam musim 2026.
Gelaran 2026 sekaligus menjadi tahun kelima penyelenggaraan MotoGP di Indonesia sejak debut Mandalika pada 2022. Pemerintah menilai ajang tersebut tidak hanya berdampak terhadap olahraga, tetapi juga menjadi penggerak sport tourism, pariwisata, ekonomi daerah, dan aktivitas masyarakat.
Skala kawasan The Mandalika juga menjadi alasan pentingnya kesiapan SDM lokal. ITDC mengelola kawasan seluas sekitar 1.175 hektare dengan garis pantai sepanjang 16 kilometer. Kawasan tersebut dikembangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata dan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, termasuk sirkuit internasional.
Dari sisi keberlanjutan, ITDC pada 2026 juga memperkuat pengelolaan ruang terbuka hijau di The Mandalika. Sekitar 363 hektare atau sekitar 30 persen kawasan dialokasikan sebagai ruang terbuka hijau.
ITDC juga mencatat telah menanam lebih dari 10.400 pohon pada 2025 dan menargetkan penanaman 15.000 mangrove pada 2026 untuk memperkuat ekosistem pesisir dan membantu mitigasi abrasi.
Sementara itu, penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 mencatat lebih dari 140 ribu penonton selama rangkaian acara.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi mobilitas wisatawan dan pengunjung yang dapat memberikan peluang bagi sektor akomodasi, kuliner, transportasi, UMKM, hingga desa-desa wisata di sekitar kawasan.
Karena itu, penguatan hospitality masyarakat menjadi bagian penting agar manfaat ekonomi dari pertumbuhan pariwisata tidak hanya terkonsentrasi di dalam kawasan The Mandalika, tetapi juga dapat dirasakan oleh masyarakat di desa-desa sekitarnya.
Melalui InJourney Hospitality House, ITDC menegaskan bahwa pengembangan destinasi tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur dan atraksi wisata. Kualitas manusia yang berinteraksi langsung dengan wisatawan menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman perjalanan yang positif.
Program tersebut sekaligus memperkuat arah pengembangan pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan masyarakat, sehingga warga lokal tidak hanya menjadi penonton pertumbuhan destinasi, tetapi turut menjadi bagian dari pelaku utama ekosistem pariwisata di Mandalika.
Editor : Purnawarman