Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Mario Aji dan Veda Ega Jadi Daya Tarik MotoGP Mandalika 2026, Gubernur Klaim Bakal Jadi yang Terbaik
Advertisement . Scroll to see content

Kejati NTB Masih Telaah Laporan Dugaan Penyalahgunaan Kewenangan Gubernur Soal Pergeseran BTT 2025

Senin, 27 Juli 2026 | 20:00 WIB
  • author Sri Susantini
Kejati NTB Masih Telaah Laporan Dugaan Penyalahgunaan Kewenangan Gubernur Soal Pergeseran BTT 2025
Kantor Kejati NTB. (Foto: istimewa)

LOMBOK, iNewsLombok.id - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Barat (NTB) masih menelaah laporan dugaan penyalahgunaan kewenangan terkait pergeseran dan penggunaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) Tahun Anggaran 2025 yang menyeret nama Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati NTB, Harun Al Rasid, mengatakan proses penanganan laporan tersebut saat ini masih berada pada tahap telaah awal.

"Masih ditelaah," ujar Harun Al Rasid saat dikonfirmasi, Senin (27/7/2026).

Laporan masyarakat tersebut tercatat telah diterima Kejati NTB pada 6 November 2025 dengan nomor registrasi 8600 dan nomor surat 04/11/05. Isi laporan berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam pergeseran dan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) pada APBD Provinsi NTB Tahun Anggaran 2025.

Dalam dokumen laporan, pelapor mendasarkan pengaduannya pada sejumlah ketentuan hukum, di antaranya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, khususnya Pasal 3 yang mengatur mengenai penyalahgunaan kewenangan yang dapat merugikan keuangan negara.

Selain itu, laporan juga mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, terutama mengenai kewajiban kepala daerah menaati peraturan perundang-undangan, menerapkan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, serta larangan menyalahgunakan kewenangan.

Pelapor juga mengutip ketentuan mengenai fungsi pengawasan DPRD terhadap pelaksanaan perda dan Peraturan Gubernur, serta hak masyarakat melaporkan dugaan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 41 UU Nomor 31 Tahun 1999.

Dalam laporannya, masyarakat menduga terjadi penyalahgunaan kewenangan dalam pergeseran dan penggunaan dana BTT APBD NTB Tahun Anggaran 2025 yang disebut berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara hingga lebih dari Rp339 miliar.

Laporan tersebut juga memuat kronologi penyusunan APBD 2025. Disebutkan bahwa pada pembahasan awal RAPBD Tahun Anggaran 2025, alokasi Belanja Tidak Terduga hanya sebesar Rp5,755 miliar sebagaimana tercantum dalam dokumen Kebijakan Umum APBD dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS).

Selanjutnya, pelapor mendalilkan adanya perubahan komposisi anggaran setelah masuknya dana transfer pemerintah pusat dan dana bagi hasil pada akhir tahun 2024 yang kemudian mengubah struktur APBD Provinsi NTB Tahun Anggaran 2025.

Hingga kini, Kejati NTB belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai substansi laporan maupun kemungkinan peningkatan status penanganan perkara.

Proses yang berlangsung saat ini masih sebatas telaah administrasi untuk menentukan apakah laporan memenuhi syarat guna ditindaklanjuti ke tahap berikutnya.

Sementara itu, dikonfirmasi orang nomor satu di NTB belum ada tanggapan resmi dari terkait laporan dugaan penyalahgunaan kewenangan tersebut.

Belanja Tidak Terduga (BTT) merupakan salah satu pos dalam APBD yang diperuntukkan bagi kebutuhan mendesak, keadaan darurat, bencana, atau kondisi luar biasa sesuai ketentuan pengelolaan keuangan daerah.

Penggunaan maupun pergeseran anggaran BTT harus mengikuti mekanisme yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, termasuk prinsip akuntabilitas, transparansi, dan pengawasan oleh DPRD serta aparat pengawas internal maupun eksternal.

Dalam proses penanganan laporan masyarakat, Kejaksaan umumnya melakukan tahap telaah atau verifikasi awal untuk menilai kelengkapan administrasi, dasar hukum, dan bukti pendukung sebelum menentukan apakah laporan dapat ditingkatkan ke tahap penyelidikan.

Editor: Purnawarman

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut