PORPROV NTB 2026: 23 Cabang Olahraga Selesai, KONI Ungkap Masih Ada 28 Cabor Berlangsung
LOMBOK, iNewsLombok.id – Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XII Nusa Tenggara Barat (NTB) 2026 memasuki fase akhir. Hingga Selasa (21/7), sebanyak 23 dari total 51 cabang olahraga (cabor) telah menuntaskan seluruh rangkaian pertandingan dengan sekitar 200 nomor pertandingan yang berhasil diselesaikan.
Ketua KONI NTB, Mori Hanafi, mengatakan pelaksanaan pertandingan sejauh ini berlangsung relatif lancar dan kondusif. Meski terdapat beberapa keberatan dari kontingen dan atlet, sebagian besar pertandingan dapat diselesaikan tanpa kendala berarti.
"Jadi dari 51 cabor, saat ini kita sudah menyelesaikan 23 cabang olahraga. Berarti masih ada 28 cabor lagi yang masih berlangsung," kata Mori dalam keterangannya, Selasa (21/7/2026).
Adapun 23 cabang olahraga yang telah menyelesaikan seluruh pertandingan meliputi selancar ombak, bola voli indoor, judo, gulat, kurash, anggar, tinju, drumband, sepak takraw, angkat besi, akuatik, hoki indoor, aerosport, dayung nomor stand up paddle (SUP), gateball, soft tennis, kickboxing, dance sport, catur, pencak silat, golf, gimnastik, dan fin swimming.
Mori mengapresiasi seluruh panitia pelaksana, perangkat pertandingan, atlet, dan ofisial yang telah menjaga sportivitas selama kompetisi berlangsung.
"Alhamdulillah, hampir seluruh cabor yang sudah menyelesaikan pertandingan ini tidak ada masalah sama sekali," ujarnya.
Meski secara umum berjalan lancar, KONI NTB masih menangani beberapa laporan keberatan yang diajukan sesuai mekanisme pertandingan.
Protes dapat disampaikan oleh atlet maupun kontingen apabila terdapat keberatan terhadap hasil pertandingan, keputusan wasit, ataupun status keabsahan atlet yang berlaga.
Apabila penyelesaian tidak tercapai di tingkat pengurus cabang olahraga, perkara dapat dilanjutkan melalui mekanisme arbitrase yang menjadi kewenangan KONI NTB.
Salah satu kasus yang masih diproses adalah keberatan yang diajukan kontingen Kota Bima terhadap atlet Kota Mataram yang berhasil meraih medali emas. Atlet tersebut dipersoalkan karena diduga bukan berasal dari NTB.
Namun, kontingen Kota Mataram membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa atlet yang dimaksud merupakan atlet yang sah mewakili daerahnya.
"Prosesnya tidak sebentar. Bisa satu hari, bisa dua hari, tergantung kasusnya," jelas Mori.
Mori juga menanggapi polemik pada cabang olahraga drumband yang sempat viral di media sosial.
Ia menegaskan persoalan tersebut merupakan kewenangan panitia pelaksana cabang olahraga dan bukan menjadi ranah KONI selama belum masuk ke proses arbitrase.
"Kalau protes di cabor tidak selesai, baru ada arbitrase. Itu memang urusan KONI. Jadi kalau ada protes yang dilakukan di KONI, sebagian sebenarnya salah alamat," katanya.
Menurut Mori, persoalan pada cabang olahraga drumband kini telah diselesaikan sesuai mekanisme yang berlaku sehingga pertandingan dapat dilanjutkan sebagaimana mestinya.
Sementara itu, sebanyak 28 cabang olahraga masih mempertandingkan nomor-nomor yang tersisa. Di antaranya atletik, kempo, tarung derajat, biliar, MMA, muaythai, wushu, kriket, dayung, bulu tangkis, tenis meja, menembak, pickleball, baseball, karate, serta sejumlah cabang olahraga lainnya.
Mori mengakui cabang olahraga bela diri menjadi salah satu yang memiliki tingkat dinamika lebih tinggi karena melibatkan kontak fisik. Namun hingga kini pelaksanaannya tetap berlangsung kondusif.
"Kami berharap di sisa pertandingan ini semuanya tetap berjalan dengan baik dan kondusif," ujarnya.
Selain memastikan kelancaran pertandingan, KONI NTB juga masih menangani penyelesaian persoalan pada 12 cabang olahraga yang masih dalam berproses penyelesaian.
Mori optimistis seluruh persoalan dapat diselesaikan sebelum penutupan PORPROV XII NTB 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Juli 2026, sehingga seluruh hasil pertandingan dapat ditetapkan secara final.
Sebagai ajang olahraga multicabang terbesar di NTB, PORPROV XII menjadi tolok ukur pembinaan atlet di tingkat kabupaten dan kota.
Selain memperebutkan prestasi daerah, hasil kompetisi ini juga menjadi salah satu dasar pemetaan atlet potensial yang dipersiapkan menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028, di mana NTB bersama Nusa Tenggara Timur (NTT) telah ditetapkan sebagai tuan rumah penyelenggara.
Dengan demikian, setiap hasil pertandingan dan proses penyelesaian sengketa menjadi bagian penting dalam menjaga kredibilitas serta sportivitas kompetisi.
Editor : Purnawarman