Gas Elpiji 3 Kg Langka di Lombok Barat, Harga Tembus Rp29 Ribu
LOMBOK, iNewsLombok.id – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram kembali dikeluhkan masyarakat di wilayah Lombok Barat dan Kota Mataram. Sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan gas subsidi tersebut di tingkat pengecer, sementara harga jualnya melonjak jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Kondisi ini membuat masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan rumah tangga, semakin terbebani. Gas melon yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah justru sulit ditemukan di warung-warung pengecer.
Suraida (35), warga Labuapi, Lombok Barat, mengungkapkan bahwa ibunya sudah beberapa hari kesulitan mencari elpiji 3 kg untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Kalaupun tersedia, harga jualnya cukup tinggi.
"LPG langka sekarang, di pengecer sulit ditemukan, kalau ada harganya Rp25 ribu sampai Rp29 ribu," ungkapnya, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, kondisi ini sangat memberatkan masyarakat kecil karena kebutuhan gas elpiji merupakan kebutuhan pokok rumah tangga yang tidak bisa ditunda.
Keluhan serupa disampaikan Fitri (45), seorang pedagang di wilayah Mataram. Ia menduga kelangkaan terjadi karena distribusi dari agen atau distributor tidak berjalan normal ke tingkat pengecer.
"Ini distributor tahan gasnya, tidak didistribusikan ke pengecer," ujarnya.
Fitri mengatakan, kondisi ini berdampak langsung terhadap usaha kecil yang sangat bergantung pada gas elpiji subsidi, seperti pedagang makanan, warung nasi, hingga pelaku UMKM rumahan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa pengecer mengaku stok elpiji 3 kg memang cepat habis dalam beberapa hari terakhir. Bahkan sebagian warga harus mencari hingga ke beberapa kelurahan untuk mendapatkan satu tabung gas.
Secara nasional, pemerintah melalui Pertamina sebenarnya telah menegaskan bahwa distribusi LPG 3 kg tetap berjalan normal. Namun, dalam praktik di lapangan, sering terjadi ketimpangan distribusi yang menyebabkan kelangkaan sementara di sejumlah daerah.
Di Nusa Tenggara Barat sendiri, konsumsi elpiji subsidi terus meningkat setiap tahun seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas UMKM. Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan pengawasan terhadap jalur distribusi agar tidak terjadi penimbunan maupun permainan harga oleh oknum tertentu.
Masyarakat juga meminta Dinas Perdagangan dan pihak Pertamina turun langsung untuk memastikan pasokan gas melon tetap tersedia dan harga sesuai ketentuan resmi pemerintah.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya, terutama sektor kuliner dan usaha kecil yang sangat bergantung pada elpiji subsidi.
Editor : Purnawarman