Gelombang 4 Meter Ancam Selatan NTB, Nelayan dan Pelayaran Diminta Waspada
LOMBOK, iNewsLombok.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi yang berpeluang terjadi di sejumlah wilayah perairan Indonesia, termasuk kawasan selatan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Peringatan tersebut berlaku selama empat hari, mulai 26 hingga 29 April 2026. BMKG meminta masyarakat pesisir, nelayan, hingga operator pelayaran untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat mengganggu aktivitas di laut.
Dalam keterangan resminya, BMKG menjelaskan bahwa pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari arah timur laut hingga timur dengan kecepatan 4 hingga 20 knot. Sementara itu, di wilayah selatan Indonesia, arah angin bergerak dari timur laut hingga tenggara dengan kecepatan berkisar antara 6 hingga 25 knot.
“Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari Timur Laut hingga Timur dengan kecepatan angin berkisar 4 - 20 knot, sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan umumnya bergerak dari Timur Laut hingga Tenggara dengan kecepatan angin berkisar 6 - 25 knot. Kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Arafuru,” tulis BMKG dalam keterangan tertulisnya, Minggu (26/4/2026).
Kondisi tersebut memicu peningkatan tinggi gelombang di sejumlah perairan Indonesia. Untuk kategori gelombang sedang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter, berpotensi terjadi di Samudra Hindia barat Aceh, barat Kepulauan Mentawai, barat Kepulauan Nias, barat Bengkulu, Laut Flores, Laut Banda, Laut Maluku, serta sejumlah wilayah Laut Arafura dan Samudra Pasifik utara Papua.
Sementara itu, gelombang yang lebih tinggi dengan kisaran 2,5 hingga 4 meter diprediksi terjadi di Samudra Hindia selatan Banten, selatan Jawa Barat, selatan Jawa Tengah, selatan DI Yogyakarta, selatan Jawa Timur, selatan Bali, selatan NTB, hingga selatan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Wilayah selatan NTB menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapatkan perhatian serius karena berada langsung di jalur Samudra Hindia yang dikenal memiliki karakter gelombang kuat, terutama saat terjadi peningkatan kecepatan angin musiman.
Selain berdampak pada aktivitas nelayan tradisional, kondisi ini juga berpotensi mengganggu jalur penyeberangan laut, khususnya rute wisata bahari menuju Gili, Lombok Selatan, hingga jalur penyeberangan menuju Pulau Sumbawa.
BMKG menegaskan bahwa gelombang tinggi tersebut dapat membahayakan keselamatan pelayaran, khususnya untuk kapal berukuran kecil hingga menengah.
Perahu nelayan dinilai berisiko apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang menyentuh 1,25 meter. Untuk kapal tongkang, potensi bahaya muncul saat kecepatan angin mencapai 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter. Sedangkan kapal ferry perlu meningkatkan kewaspadaan jika kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter.
Sebagai tambahan, BMKG juga mengingatkan bahwa April merupakan masa peralihan musim yang sering memicu cuaca tidak menentu, termasuk hujan tiba-tiba, angin kencang, dan gelombang laut yang meningkat secara cepat.
Karena itu, masyarakat pesisir diminta rutin memantau pembaruan informasi cuaca dari BMKG, terutama melalui kanal resmi seperti aplikasi InfoBMKG, media sosial resmi, maupun stasiun meteorologi terdekat.
“Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada,” imbau BMKG.
Pemerintah daerah di wilayah pesisir NTB juga diharapkan aktif menyampaikan informasi ini kepada masyarakat, terutama nelayan tradisional yang sangat bergantung pada kondisi cuaca untuk melaut setiap hari.
Dengan kewaspadaan yang lebih tinggi, risiko kecelakaan laut akibat gelombang tinggi diharapkan dapat diminimalisasi.
Editor : Purnawarman