Masjid Bengak, Tertua di Kota Mataram yang Sarat Sejarah dan Legenda Wali
Ketika sang wali menggelar pengajian di kawasan Sekarbela, tiba-tiba muncul mata air di dekat lokasi tersebut. Peristiwa ini membuat warga merasa heran atau “bengak” dalam bahasa lokal, yang kemudian menjadi asal-usul nama Masjid Bengak.
Mata air tersebut hingga kini dipercaya membawa berkah dan menjadi simbol spiritual bagi masyarakat sekitar.
Meski memiliki nilai sejarah tinggi, Masjid Bengak tampil dengan arsitektur modern. Sepanjang sejarahnya, masjid ini telah mengalami empat kali renovasi besar.
Bangunan masjid terdiri dari tiga lantai, ditopang oleh tiang-tiang beton kokoh, serta dilengkapi satu menara tinggi yang menjulang di sisi bangunan.
Salah satu bagian paling ikonik adalah mimbar kayu berukir kaligrafi berwarna hitam yang diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun, menjadikannya artefak bersejarah yang masih terawat hingga kini.
Bagian halaman masjid juga dipercantik dengan batu alam bermotif bunga, sementara di salah satu sudut terdapat kolam kecil yang dipagari besi.
Selain sebagai tempat salat, Masjid Bengak aktif digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan seperti:
Pengajian rutin warga
Pendidikan Al-Qur’an untuk anak-anak
Peringatan hari besar Islam
Kegiatan sosial masyarakat
Masjid ini menjadi simbol perpaduan sejarah, budaya, dan spiritualitas masyarakat Kota Mataram.
Beberapa informasi menarik tentang Masjid Bengak yang jarang diulas:
Masjid Bengak termasuk dalam jalur wisata religi Kota Mataram bersama beberapa masjid tua lainnya.
Banyak peziarah lokal datang khusus untuk berdoa di sekitar area mata air yang dikaitkan dengan kisah wali.
Masjid ini sering dijadikan objek penelitian sejarah Islam lokal oleh mahasiswa dan akademisi di NTB.
Pada bulan Ramadan, Masjid Bengak selalu dipadati jamaah karena dianggap memiliki nilai spiritual tinggi.
Editor : Purnawarman