get app
inews
Aa Text
Read Next : GT World Challenge Asia 2025 Siap Digelar di Mandalika, Pertama Kali Balapan Roda Empat di Indonesia

Tarif Baru Impor AS, Bagaimana Nasib Ekonomi Indonesia?

Sabtu, 05 April 2025 | 07:12 WIB
header img
Tarif Baru Impor AS, Bagaimana Nasib Ekonomi Indonesia?. Edo Sagara Gustanto (Foto: Dok Pribadi)

Selain itu, penurunan volume ekspor dapat berdampak pada sektor tenaga kerja. Industri manufaktur yang bergantung pada pasar AS berisiko mengalami perlambatan produksi, yang dapat berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK). Jika banyak perusahaan mengalami kesulitan akibat penurunan ekspor, maka angka pengangguran bisa meningkat, yang pada gilirannya akan berdampak pada daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi domestik.

Dampak lainnya adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Jika ekspor menurun drastis, maka aliran devisa dari sektor perdagangan juga akan berkurang. Hal ini bisa menyebabkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS, yang pada akhirnya dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan memperburuk defisit neraca perdagangan. Kondisi ini bisa menciptakan lingkaran masalah yang lebih besar jika tidak diatasi dengan strategi ekonomi yang tepat.

Risiko Perlambatan Ekonomi

Beberapa ekonom memperingatkan bahwa kebijakan tarif ini bisa menjadi pemicu perlambatan ekonomi Indonesia. Dengan berkurangnya ekspor, pendapatan negara dari perdagangan luar negeri akan menurun, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Jika situasi ini tidak ditangani dengan baik, Indonesia bahkan berpotensi mengalami resesi pada kuartal mendatang. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini cukup stabil bisa terganggu akibat berkurangnya kontribusi sektor ekspor terhadap PDB nasional.

Lebih jauh, efek domino dari kebijakan ini juga bisa dirasakan oleh sektor investasi. Ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan proteksionisme AS dapat mengurangi minat investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia, terutama di sektor-sektor yang terdampak langsung oleh tarif impor tersebut. Jika investasi menurun, maka ekspansi bisnis di sektor manufaktur dan industri lainnya juga akan melambat, yang semakin memperparah situasi ekonomi nasional.

Selain itu, kebijakan ini juga bisa berdampak pada iklim bisnis secara keseluruhan. Pelaku usaha yang selama ini mengandalkan ekspor ke AS harus berpikir ulang untuk mempertahankan atau bahkan memperluas bisnisnya. Jika biaya produksi tetap tinggi dan pasar menjadi semakin terbatas, maka banyak pelaku industri yang akan menghadapi tekanan finansial yang lebih besar, yang bisa berujung pada penutupan usaha dalam skala kecil hingga menengah.

Editor : Purnawarman

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut