LOMBOK, iNewsLombok.id - SDN Beber, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), memutuskan menolak penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara permanen dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mana pun.
Keputusan tersebut diambil setelah dugaan keracunan yang dialami ratusan siswa usai menyantap menu MBG pada Jumat (11/9/2026). Komite sekolah dan wali murid mengaku masih mengalami trauma setelah sejumlah siswa harus mendapat penanganan di puskesmas.
Ketua Komite SDN Beber Surya Darmawan mengatakan keputusan penghentian penerimaan MBG telah disepakati melalui rembuk bersama antara komite dan wali murid.
"Untuk tindak lanjut dari kejadian kemarin, kami dari sisi komite dan wali murid di SDN Beber kami sudah rembuk bareng kami bersepakat untuk menyikapi kejadian hari jumat itu bahwa kami sepakat untuk berhenti menerima MBG secara permanen khusus untuk SDN Beber entah dari dapur manapun kami sudah tidak terima lagi," kata Surya Darmawan, Komite SDN Beber.
Penolakan tersebut kemudian dituangkan dalam petisi atau surat pernyataan yang ditandatangani wali siswa. Pihak sekolah dan orang tua juga menyatakan akan memastikan kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi meski tidak lagi menerima makanan dari program MBG.
Persoalkan Label Waktu Konsumsi
Selain menolak program MBG, pihak SDN Beber juga menyoroti persoalan penyaluran makanan, termasuk terkait label batas waktu konsumsi yang disebut seharusnya terpasang pada wadah makanan.
Guru SDN Beber Azian Liana mengatakan saat menerima makanan pada pagi hari, dirinya tidak menemukan label tersebut pada wadah makanan yang dikirimkan.
"Kebetulan saya yang menerima makanan pagi itu, ompreng saya cek satu dan kondisi aman saja dan memang dari awal tidak ada labelnya ompreng ini cuma diikat lima-lima ompreng," ungkap Azian Liana, Guru SDN Beber.
Pihak sekolah juga membantah tudingan bahwa kelalaian guru menjadi faktor yang menyebabkan siswa mengalami gejala keracunan.
Surya menegaskan kehadiran guru pada hari kejadian tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
"Kami dari komite ingin mengklarivikasi dugaan dan tuduhan dari pihak pemilik dapur yang mengatakan bahwa kejadian pada hari jumat 11 September adalah kelalain guru, entah itu dikatakan telat membagi entah itu pergi maulidan apapun namanya itu, karena kehadiran guru di hari itu tidak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya," jelas Surya.
226 Siswa SDN Beber Dilaporkan Terdampak
Berdasarkan data yang disampaikan pihak sekolah, dari total 252 siswa SDN Beber, sebanyak 226 siswa diduga mengalami gejala keracunan dan mendapat rujukan ke sejumlah puskesmas. Lima guru juga dilaporkan mengalami keluhan serupa dan mendapatkan penanganan medis.
Kasus di SDN Beber merupakan bagian dari dugaan keracunan MBG yang berdampak pada sejumlah sekolah di Kecamatan Batukliang. Pada laporan awal, jumlah siswa yang mengalami keluhan di beberapa sekolah mencapai 352 orang. Data BGN kemudian mencatat 333 korban berdasarkan pendataan by name by address hingga Jumat (11/9/2026) pukul 18.00 WITA.
Para siswa mengalami sejumlah keluhan, antara lain mual, muntah, pusing, dan sakit perut setelah mengonsumsi menu MBG berupa kebab ayam. Sampel makanan dan bahan terkait telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pengelola SPPG Minta Maaf
Sementara itu, Ketua Yayasan Budi Sain Mangkling yang menaungi dapur SPPG di Desa Mekar Bersatu, Batukliang, Khaeruddin, menyampaikan permintaan maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan akibat pernyataannya terkait dugaan kelalaian guru.
"Kondisi dapur yang sekarang sesuai SOP kita off dulu karena ini kan suspend ya, dan kita mohon maaf yang setinggi-tingginya kepada wali murid, adek saya dan anak-anak saya tak jemu-jemunya saya minta maaf dengan ucapan mungkin yang salah sehingga ada gejolak di lapangan tapi tidak ada niat kita yang aneh-aneh dalam penyajian makanan," kata Khaeruddin.
Khaeruddin menjelaskan menu yang menjadi sampel dalam dugaan kejadian tersebut merupakan makanan siap saji berupa kebab ayam.
"Kami lihat memang, makanannya adalah makanan siap saji yang harus cepat dimakan karena itu makanan siap saji bentuknya," jelas Khaeruddin.
Sebelumnya, pengelola SPPG menyebut menu kebab ayam tersebut memiliki batas waktu konsumsi tertentu. Namun, penyebab pasti munculnya gejala pada para siswa masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
SPPG Masih Disuspend
Dapur SPPG Budi Sain Mangkling di Desa Mekar Bersatu, Kecamatan Batukliang, masih menjalani penghentian sementara atau suspend setelah kasus tersebut.
BGN sebelumnya menyatakan SPPG yang menyalurkan makanan kepada para siswa dihentikan sementara dan kasusnya dilaporkan untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.
Selain BGN, pemeriksaan juga dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama pihak terkait di NTB. Pemeriksaan mencakup sampel makanan serta kondisi lingkungan di sekitar dapur SPPG.
Polisi juga melakukan penyelidikan terhadap dugaan keracunan tersebut. Sampel makanan yang tersisa diamankan untuk membantu proses pemeriksaan dan penelusuran penyebab kejadian.
Hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar, hubungan langsung antara menu MBG dan gejala yang dialami para siswa tetap perlu dibuktikan secara ilmiah. Karena itu, istilah dugaan keracunan digunakan dalam pemberitaan.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
