Menurut Aiman, setiap penugasan jurnalis tetap mengacu pada Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan serta prinsip mitigasi bencana.
"Kami juga selalu menekankan bahwa kami tidak pernah memberikan penugasan yang melanggar aturan dan ketentuan dari mitigasi bencana, apa pun itu karena kami punya prinsip tidak ada berita seharga nyawa, dan itu kami jaga betul," tegasnya.
Pencarian Bisa Dibuka Kembali
Meski operasi SAR resmi dihentikan, pencarian terhadap delapan orang tersebut tidak sepenuhnya ditutup. Tim SAR masih membuka kemungkinan operasi kembali dilakukan apabila terdapat informasi, petunjuk, atau tanda-tanda baru mengenai keberadaan mereka.
Aiman mengatakan iNews akan terus berkoordinasi dengan Basarnas, Pemerintah Provinsi Banten, serta TNI dan Polri terkait perkembangan pencarian.
"Ke depan kami terus berkoordinasi dengan petugas Basarnas, pemerintah Provinsi Banten, dan juga TNI-Polri yang ikut dalam proses pencarian. Meskipun sudah dihentikan hari ini, tetapi jika ada temuan baru, maka akan dibuka kembali," jelas Aiman.
Berdasarkan informasi Kantor SAR Banten, kapal yang membawa delapan orang tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Kapal diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk perjalanan tersebut.
Namun, sekitar pukul 14.42 WIB, kapal dilaporkan hilang kontak di antara perairan Carita dan Gunung Anak Krakatau. Delapan orang yang berada di dalam kapal terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak kapal.
Kelima jurnalis tersebut yakni Yudistiro Pranoto, jurnalis sekaligus pewarta foto iNews; Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency; Donal Husni, jurnalis freelance; M. Bagus Khoirunnas, pewarta foto Antara; serta Arie Basuki, pewarta foto Merdeka.com.
Sementara tiga awak kapal adalah Warta selaku kapten, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), serta Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu atau guide.
Keluarga Tetap Didampingi
Aiman mengatakan iNews juga memberikan perhatian terhadap kondisi keluarga para korban. Menurutnya, keluarga harus tetap mendapatkan pendampingan selama proses pencarian maupun setelah operasi SAR resmi dihentikan.
"Kami berkoordinasi dengan para petugas, kami juga berkoordinasi dengan keluarga, karena keluarga tidak boleh dilupakan, keluarga tidak boleh ditinggalkan. Mereka harus juga tetap dilakukan pendampingan dan kami akan melakukannya," pungkasnya.
Pemerintah Provinsi Banten menyatakan bahwa hingga berakhirnya operasi hari ke-10, tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang hilang. Pemantauan tetap dilakukan dan operasi dapat kembali dibuka apabila ditemukan petunjuk baru.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
