Ia menilai kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia, khususnya daerah seperti Selaawi, untuk meningkatkan daya saing industri bambu nasional melalui inovasi produk dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Selaawi Sudah Lama Dikenal Sebagai Kampung Bambu
Secara historis, Kecamatan Selaawi memang dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan bambu terbesar di Jawa Barat. Banyak warga menggantungkan hidup dari produksi berbagai kerajinan bambu seperti perabot rumah tangga, anyaman, alat musik tradisional, hingga produk dekoratif bernilai ekspor.
Data Pemerintah Kabupaten Garut menunjukkan bahwa ribuan kepala keluarga di wilayah tersebut terlibat langsung dalam rantai produksi bambu, baik sebagai pengrajin, pemasok bahan baku, maupun pelaku usaha mikro.
Namun tantangan utama yang selama ini dihadapi adalah keterbatasan inovasi desain, standarisasi mutu, hingga akses pasar yang masih terbatas.
Melalui pelatihan Gebrak Bambu, pemerintah berharap lahir diversifikasi produk baru, efisiensi proses produksi, peningkatan kualitas, hingga model bisnis bambu yang lebih modern dan berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemenko PM, akademisi dari IPB University, dan Pemerintah Kabupaten Garut dalam upaya mendorong transformasi ekonomi desa berbasis potensi lokal.
Prof. Abdul Haris juga meminta seluruh peserta pelatihan agar tidak hanya menjadi pengrajin biasa, tetapi mampu menjadi agen perubahan di wilayah masing-masing.
“Keterampilan yang dimiliki para pengrajin adalah aset bangsa. Dari tangan-tangan terampil inilah lahir produk bernilai tinggi yang tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga membawa nama Indonesia ke tingkat global,” ujarnya.
Program ini juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan desa, dan memperkuat industri ramah lingkungan.
Dengan hadirnya Gebrak Bambu, Kecamatan Selaawi diharapkan semakin berkembang sebagai pusat industri bambu nasional yang kompetitif, sekaligus menjadi contoh sukses pembangunan kawasan perdesaan berbasis potensi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
