TEHERAN, iNewsLombok.id – Pemerintah Iran secara tegas membantah klaim adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat, meskipun sebelumnya Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan antara kedua negara sedang berlangsung.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak pernah ada dialog langsung antara kedua pihak. Namun, ia mengakui adanya komunikasi tidak langsung melalui negara perantara.
"Kami belum melakukan pembicaraan dengan AS. Selama beberapa hari terakhir, pesan telah diterima dari sejumlah negara sahabat mengenai tuntutan AS untuk pembicaraan yang bertujuan mengakhiri perang, yang telah ditanggapi sesuai dengan sikap prinsip pemerintah," kata Baghaei kepada kantor berita IRNA.
Komunikasi Lewat Mediator dan Sinyal Tegas Iran
Baghaei menjelaskan bahwa pesan-pesan dari pihak AS memang diterima melalui mediator internasional. Dalam komunikasi tersebut, Iran juga menyampaikan sikap tegas terkait potensi eskalasi konflik.
Ia menekankan bahwa Iran tidak hanya merespons secara diplomatik, tetapi juga memberikan peringatan keras terkait kemungkinan serangan terhadap fasilitas vital negara.
Iran bahkan memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur penting akan memicu konsekuensi serius dan respons cepat dari militernya.
Militer Iran Siaga Hadapi Ancaman
Dalam situasi yang semakin memanas, militer Iran disebut berada dalam kondisi siaga penuh. Negara itu menegaskan kesiapan untuk merespons setiap bentuk agresi, baik dari Amerika Serikat maupun Israel.
Langkah ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih jauh dari mereda, bahkan berpotensi meningkat jika tidak ada jalur diplomasi yang efektif.
Parlemen Iran: Negosiasi Tidak Rasional
Sementara itu, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menilai bahwa negosiasi dengan AS dalam kondisi saat ini tidak relevan.
"Negosiasi dalam kondisi saat ini tidak rasional. Musuh hanya memahami bahasa kekuatan dan rudal," tulis Rezaei di media sosial X.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap keras dari sebagian elit politik Iran yang lebih mengedepankan pendekatan kekuatan dibandingkan diplomasi.
Hubungan Iran dan AS telah lama tegang sejak penarikan AS dari perjanjian nuklir JCPOA pada 2018, yang memicu sanksi ekonomi berat terhadap Iran.
Negara-negara seperti Oman, Qatar, dan Swiss sering berperan sebagai mediator dalam komunikasi tidak langsung antara kedua pihak.
Konflik terbaru di kawasan Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran global terhadap potensi perang yang lebih luas.
Pengamat menilai bahwa komunikasi tidak langsung menjadi satu-satunya jalur diplomasi yang masih terbuka di tengah ketegangan politik dan militer.
Pernyataan Iran yang membantah adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat menegaskan bahwa hubungan kedua negara masih berada dalam fase sensitif. Meski komunikasi tetap berlangsung melalui mediator, perbedaan sikap dan meningkatnya ketegangan militer menjadi tantangan besar bagi upaya perdamaian di kawasan.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
