Hatami menegaskan bahwa penguatan armada drone merupakan bagian dari strategi jangka panjang Iran untuk menjaga keunggulan militer.
“Kesiapan untuk operasi tempur cepat dan respons tegas terhadap segala bentuk agresi terus menjadi panduan perencanaan pertahanan Iran, sejalan dengan ancaman yang diantisipasi,” ujarnya.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir kembali meningkat, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim bahwa armada perang negaranya dalam jumlah besar telah bergerak menuju kawasan sekitar Iran.
Trump bahkan mengancam akan melancarkan serangan besar jika Iran tidak segera menyepakati negosiasi nuklir baru.
Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan tidak akan gentar dengan tekanan tersebut. Para pejabat Teheran memperingatkan bahwa setiap bentuk agresi militer dari AS akan dibalas secara cepat, terukur, dan menyeluruh.
Di sisi lain, Iran juga menegaskan tetap membuka ruang diplomasi. Namun negosiasi hanya akan dilakukan jika berlangsung secara adil, seimbang, tanpa tekanan politik maupun ancaman militer.
Sebagai catatan, Iran selama beberapa tahun terakhir dikenal sebagai salah satu negara dengan program drone militer paling aktif di Timur Tengah. Drone buatan Iran seperti Shahed, Mohajer, dan Arash telah digunakan dalam berbagai operasi militer regional dan menjadi bagian penting dari strategi pertahanan asimetris Iran.
Pengamat militer menilai peningkatan jumlah drone ini juga bertujuan memperkuat deterrence effect, yakni efek gentar terhadap potensi serangan negara-negara Barat, sekaligus mengurangi ketergantungan Iran terhadap pesawat tempur berawak yang mahal dan rentan.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
