Gelandang Tarkam Lombok King Polo Dipuji Media Brasil, Disebut Punya Gaya Main Mirip Rodri
Tidak hanya mengandalkan kemampuan individu, King Polo juga memperlihatkan visi bermain dengan membagi bola kepada rekan setimnya.
Dalam pertandingan yang ditampilkan tersebut, pemain bernomor punggung 5 itu tercatat memberikan dua assist.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu alasan aksinya menarik perhatian netizen Indonesia yang kemudian memenuhi kolom komentar unggahan TNT Sport Brazil.
Sejumlah pengguna media sosial bahkan meminta klub-klub besar Eropa memperhatikan pemain asal Lombok tersebut.
“Hallo @manutd angkut ini cepat,” tulis akun @reds_great.
"@bvb09, @mancity, @liverpoolfc @atleticomadrid,” sambung akun @masboyyy_29 meminta klub-klub tersebut mendatangkan King Polo.
Komentar-komentar tersebut merupakan respons netizen terhadap aksi King Polo dan bukan berarti klub-klub tersebut telah menyatakan ketertarikan atau melakukan pendekatan resmi.
King Polo memiliki nama asli Supriandi. Ia lahir di Desa Apitaik, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, pada 17 Februari 1999.
Popularitasnya dibangun dari berbagai turnamen sepak bola antarkampung atau tarkam. Gaya bermainnya membuat King Polo dikenal luas di kalangan pencinta sepak bola tarkam, bukan hanya di Lombok, tetapi juga di sejumlah daerah di Indonesia.
Media nasional sebelumnya juga menyoroti Supriandi sebagai “raja tarkam” asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa King Polo masih memiliki keinginan untuk bermain di klub profesional.
Soal bayaran, beredar informasi bahwa King Polo bisa mendapatkan sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta dalam satu pertandingan. Untuk laga dengan skala atau gengsi lebih besar, nilainya disebut dapat mencapai Rp20 juta per pertandingan.
Namun, angka bayaran tersebut merupakan informasi yang beredar dan belum dapat dipastikan sebagai pendapatan tetap atau tarif resmi King Polo.
Meski identik dengan sepak bola tarkam, King Polo bukan sepenuhnya asing dengan kompetisi yang berada dalam struktur sepak bola resmi.
Ia pernah tampil di Liga 4 Piala Presiden 2025/2026 bersama Nathan Lebak. Dalam salah satu pertandingan fase grup, Nathan Lebak yang diperkuat Supriandi alias King Polo menghadapi Persma 1960 Manado dan kalah 0-1.
Sementara itu, laporan lain mencatat King Polo pernah memperkuat Persic Cilegon di Liga 4 Banten musim 2024/2025. Ia disebut membantu tim tersebut meraih gelar juara dan mendapat penghargaan pemain terbaik kompetisi.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perjalanan King Polo tidak hanya berlangsung di lapangan tarkam. Ia juga sempat mencicipi atmosfer kompetisi yang berada dalam jalur sepak bola resmi.
Popularitas King Polo bahkan pernah menarik perhatian klub luar negeri.
Pada 2026, media melaporkan adanya ketertarikan klub Timor Leste, DIT FC, terhadap pemain asal Lombok tersebut. DIT FC merupakan klub yang berbasis di Dili dan berkompetisi di Liga Futebol Timor Leste.
Ketertarikan itu menjadi salah satu indikasi bahwa performa King Polo di berbagai turnamen mulai mendapat perhatian di luar Indonesia.
Namun, hingga kini informasi mengenai ketertarikan tersebut tidak dapat disamakan dengan kepindahan resmi atau kontrak profesional yang telah rampung.
Perjalanan King Polo menjadi menarik karena popularitasnya tumbuh bukan melalui akademi klub elite atau kompetisi kasta tertinggi sejak usia muda, melainkan dari panggung sepak bola tarkam.
Ia bahkan sempat tampil dalam film bertema sepak bola Bapakmu Kiper, yang tayang di bioskop pada September 2026. King Polo ikut beradu dalam proyek film tersebut bersama sejumlah aktor dan pemain sepak bola lainnya.
Kini, aksinya kembali menjadi pembicaraan setelah TNT Sport Brazil menyoroti permainan gelandang asal Lombok tersebut.
Perbandingan dengan Rodri tentu merupakan penilaian media berdasarkan cuplikan pertandingan dan bukan berarti King Polo memiliki level atau status yang sama dengan pemain Manchester City tersebut.
Namun, perhatian tersebut menjadi tambahan cerita bagi perjalanan Supriandi alias King Polo, dari lapangan tarkam di Indonesia hingga mendapat sorotan media olahraga internasional.
Editor: Purnawarman