Menkomdigi Meutya Hafid Cek Frekuensi MotoGP Mandalika, 250 Lebih Kanal Frekuensi Dipastikan Aman
Menurut Meutya, kebutuhan penguatan jaringan tidak hanya berkaitan dengan komunikasi para pembalap dan tim. Kepadatan pengunjung di kawasan Mandalika juga berpotensi meningkatkan trafik telekomunikasi secara signifikan.
Kemkomdigi bersama operator seluler menyiapkan empat Base Transceiver Station (BTS) bergerak untuk meningkatkan kapasitas layanan telekomunikasi selama penyelenggaraan MotoGP. Pengawasan spektrum dilakukan Direktorat Pengendalian Infrastruktur Digital bersama Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio (Balmon SFR) Mataram untuk mencegah interferensi antarsistem komunikasi.
Meutya mengatakan kesiapan frekuensi juga menjadi bagian penting untuk memastikan balapan dapat disiarkan secara langsung ke berbagai negara.
"Yang paling utama juga ini akan live di minimal 100 televisi mancanegara dan itu juga perlu penguatan sehingga tadi yang kita periksa adalah itu agar apa yang terjadi disini dapat dipersiapkan dengan baik di banyak tempat di banyak negara kemudian agar konektivitas dari pengunjung tidak terganggu," lanjut Meutya.
Selain kebutuhan siaran, frekuensi radio juga berperan dalam komunikasi teknis dan keselamatan balapan. Sistem komunikasi harus mampu mendukung kebutuhan tim balap, race control, petugas lintasan, penyelenggara, media, serta sistem telemetri yang mengirimkan data teknis kendaraan secara langsung.
Dengan banyaknya sistem komunikasi yang aktif secara bersamaan, pengelolaan spektrum menjadi penting untuk mencegah terjadinya interferensi yang dapat mengganggu operasional maupun aspek keselamatan.
Penguatan dan pengawasan frekuensi tidak hanya dilakukan di kawasan sirkuit. Kemkomdigi juga memberikan perhatian terhadap Bandara Lombok karena peningkatan aktivitas penerbangan selama MotoGP dapat meningkatkan kebutuhan komunikasi di wilayah tersebut.
Hal ini menjadi bagian dari kesiapan infrastruktur digital untuk mendukung mobilitas penonton, pembalap, tim, media, dan berbagai pihak yang datang ke NTB selama ajang internasional tersebut.
Sementara itu, Plt Direktur Utama InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), Ahmad Fajar, menilai kesiapan frekuensi merupakan salah satu komponen penting dalam menciptakan pengalaman yang baik bagi seluruh pihak yang berada di kawasan Mandalika.
"Salah satu kunci pentingnya adalah frekuensi, nah inilah yang kita butuhkan karena ini yang dibutuhkan bukan hanya oleh pemain pembalap tapi juga bagi pelaksana kami dan penonton, tentunya eksperiens bagus itu yang kita harapkan bagi seluruh penonton maupun semuanya yang hadir di Mandalika yang indah," tegas Fajar.
Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober di Pertamina Mandalika International Circuit. Pemerintah memperkirakan sekitar 150.000 penonton akan hadir di sirkuit, sementara jumlah orang yang berada di kawasan Mandalika selama gelaran berlangsung dapat mencapai 200.000 orang.
ITDC sebelumnya menargetkan jumlah penonton MotoGP 2026 menembus lebih dari 145.000 orang atau meningkat sekitar 15,7 persen dibandingkan penyelenggaraan 2025 yang mencatat 140.324 penonton.
Dengan dukungan lebih dari 250 frekuensi, empat BTS bergerak, serta pengawasan spektrum selama event, Kemkomdigi memastikan kebutuhan komunikasi di Mandalika dipersiapkan untuk menghadapi lonjakan aktivitas selama race weekend.
Bagi penyelenggara, kesiapan komunikasi tersebut menjadi bagian penting agar balapan berlangsung aman, siaran internasional berjalan lancar, dan masyarakat dapat menikmati MotoGP Mandalika tanpa terganggu persoalan konektivitas.
Editor: Purnawarman