get app
inews
Aa Text
Read Next : Kebakaran Sade, Banggar DPRD NTB Desak Gubernur Iqbal Segera Gunakan Dana BTT

Dosen UIN Mataram Minta Rekonstruksi Sade Libatkan SDM Lokal, Bukan Hanya Kampus Luar NTB

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:31 WIB
header img
Kondisi Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Lombok Tengah, Minggu (23/8/2026), usai kebakaran hebat yang meludeskan sekitar 150 rumah adat Suku Sasak dan memaksa 700 KK mengungsi.(Foto: iNews TV)

LOMBOK, iNewsLombok.id - Rencana Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal melibatkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam pengembangan dan rekonstruksi Desa Adat Sade mendapat tanggapan dari kalangan akademisi di daerah.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Dr. Muhammad Fikri, mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap pemulihan Desa Adat Sade pascakebakaran. Namun, ia berharap Pemerintah Provinsi NTB juga mengoptimalkan sumber daya manusia (SDM) dan keahlian yang dimiliki perguruan tinggi di NTB.

"Sebaiknya Pemerintah Provinsi mengajak SDM yang ada di NTB. Masih banyak SDM di NTB yang serius dan kompeten terhadap pengembangan Pariwista Khususnya di desa Sade," tegasnya, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Fikri, pelibatan perguruan tinggi lokal penting karena sejumlah kampus di NTB memiliki program studi yang berkaitan langsung dengan pengembangan pariwisata, budaya, dan masyarakat.

Ia mencontohkan UIN Mataram yang memiliki Program Studi Pariwisata Syariah serta Universitas Mataram (Unram) yang juga mempunyai program studi pariwisata.

"Misalkan di UIN Mataram ada Prodi Pariwista syariah yang mana mereka-mereka itu konsen terhadap pengembangan dan Problematika Pariwisata di Lombok Khusus. Begitu juga di Unram terdapat prodi pariwisata dan Universitas Lainnya," terangnya.

Rekonstruksi Sade Harus Pertahankan Budaya Sasak

Fikri menilai pembangunan kembali Desa Adat Sade tidak boleh hanya berorientasi pada pemulihan fisik bangunan. Menurutnya, karakter budaya Sasak harus menjadi dasar utama dalam setiap tahapan rekonstruksi.

Ia juga meminta pemerintah mempertemukan akademisi dengan budayawan serta tokoh agama agar proses pemulihan Sade memiliki perspektif yang lebih lengkap.

"Budayawan- di NTB serta Tokoh agama yg harus di satukan, karena bagaimnapun NTB terkenal dengan Pariwisata syariah yg perlu dipertahankan," terangnya.

Ia menilai konsep rekonstruksi perlu mengembalikan Sade sebagai kawasan adat sekaligus ruang hidup masyarakat, bukan sekadar membangun kembali bangunan yang terbakar.

"Sebaiknya Konsep Rekonstruksi lebih di fokuskan ke pengembalian Desa sade dengan memperhatikan nilai-nilai budaya. Seperti arsitektur bangunan, serta budaya-budaya yang ada di desa tersebut untuk terus dapat dilestarikan, seperti penenuan kain," tegasnya.

Menurutnya, pelestarian arsitektur tradisional, tradisi masyarakat, kerajinan, hingga pengetahuan lokal perlu menjadi bagian dari desain rekonstruksi.

Gubernur Gagas Sade sebagai Laboratorium Sosial

Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mendorong keterlibatan UMM dalam program pengembangan desa berdaya. Gagasan tersebut diarahkan agar sejumlah wilayah di NTB dapat menjadi laboratorium sosial untuk menguji model pemberdayaan masyarakat secara langsung.

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Desa Adat Sade yang tengah memasuki fase pemulihan setelah kebakaran hebat pada 22 Agustus 2026.

Konsep yang didorong bukan hanya membangun kembali rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga mengembalikan daya tarik Sade sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui apa yang disebut sebagai "super eksperimen sosial".

Gagasan tersebut sejalan dengan pendekatan rekonstruksi yang sebelumnya ditegaskan Gubernur Iqbal. Ia menyatakan rumah-rumah yang terbakar harus kembali berdiri, tetapi sejarah, arsitektur, ruang hidup, dan identitas budaya Sade tidak boleh hilang.

Kerja sama Pemprov NTB dengan UMM sendiri diarahkan pada program pemberdayaan berbasis potensi daerah, dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Lombok Heritage Dukung Kolaborasi Akademisi

Sementara itu, Ketua komunitas Lombok Heritage, Hakim, menilai keterlibatan berbagai pihak dalam proses pemulihan Desa Adat Sade patut diapresiasi.

Menurutnya, pemerintah daerah membutuhkan sebanyak mungkin pihak yang memiliki kompetensi untuk membantu menyelesaikan persoalan pascabencana, termasuk dari kalangan akademisi.

"Menurut kami dari Lombok Heritage (LHSS) pelibatan berbagai pihak terutama para akademisi dari berbagai kampus nasional seperti UMM patut diapresiasi," ungkapnya.

Hakim menilai tidak perlu ada dikotomi antara perguruan tinggi dari NTB dan kampus dari luar daerah. Hal yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan setiap program benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat Sade.

"Daerah kita sedang membutuhkan banyak tangan untuk membantu, jadi kita tak perlu mendikotomikan apakah yang membantu tersebut kampus dari dalam atau luar NTB. Yang perlu kita kawal adalah bagaimana perencanaan dan pelaksanaan program berjalan dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ungkapnya.

Kebakaran Sade Berdampak Besar

Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade pada Sabtu (22/8/2026) malam berdampak besar terhadap permukiman dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Data pemerintah daerah mencatat sedikitnya 75 rumah adat dan 69 art shop terdampak. Sejumlah fasilitas adat dan umum, termasuk masjid, berugak, lumbung, serta fasilitas wisata juga ikut terdampak. Perkiraan kerugian mencapai sekitar Rp34 miliar.

Kebakaran tersebut juga mengganggu aktivitas ekonomi warga yang selama ini bergantung pada kunjungan wisatawan dan penjualan kerajinan lokal.

Pemerintah Provinsi NTB kemudian menetapkan status tanggap darurat bencana nonalam untuk mendukung penanganan pascakebakaran.

Di sisi lain, Kementerian Pariwisata juga telah turun tangan membahas pemulihan kawasan tersebut bersama pemerintah daerah.

Dengan kondisi tersebut, rekonstruksi Desa Adat Sade kini tidak hanya menjadi agenda pembangunan fisik. Pemulihan juga menyangkut keberlanjutan budaya Sasak, pemulihan mata pencaharian warga, penguatan mitigasi kebakaran, serta masa depan Sade sebagai destinasi wisata budaya.

Bagi Fikri, keterlibatan SDM lokal, budayawan, tokoh agama, akademisi, pemerintah, dan masyarakat adat perlu berjalan bersama agar rekonstruksi tidak kehilangan ruh Desa Sade.

"Sehingga dalam rekonstruksi Desa Sade, saya mengharapkan Pak Gubernur mengundang semua kalangan baik budayawan dan tokoh agama dalam merekonstruksi Desa Sade sehingga dalam pembangunannya tidak ada nilai-nilai budaya yang hilang," tegasnya.

Editor : Purnawarman

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut