Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Diperiksa 5 Jam Kasus Dugaan Kekerasan Seksual, Eks Pimpinan Ponpes Abul Barokat Langsung Ditahan
Advertisement . Scroll to see content

1 Santri Tewas, Kasus Pembakaran di Ponpes Lombok Masuk Tahap Penyidikan, Segera Tetapkan Tersangka

Rabu, 08 Juli 2026 | 17:28 WIB
  • author iNews TV/Purnawarman
1 Santri Tewas, Kasus Pembakaran di Ponpes Lombok Masuk Tahap Penyidikan, Segera Tetapkan Tersangka
Kapolda NTB Irjen Pol Kalingga Rendra Raharja (kiri) menyatakan kasus pembakaran tiga santri di salah satu ponpes di Batukliang Utara, Lombok Tengah, telah naik ke tahap penyidikan dan segera memasuki penetapan tersangka. (Foto: iNews TV)

LOMBOK, iNewsLombok.id - Penanganan kasus dugaan penganiayaan brutal terhadap tiga santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), resmi memasuki tahap penyidikan. Kepolisian Daerah NTB memastikan proses hukum terus berjalan dan penetapan tersangka akan segera dilakukan dalam waktu dekat.

Kapolda NTB, Irjen Pol Kalingga Rendra Raharja, mengatakan penyidik telah memeriksa sedikitnya 15 orang saksi untuk mengungkap secara utuh rangkaian peristiwa yang menewaskan seorang santri tersebut. Pemeriksaan dilakukan secara maraton terhadap para korban selamat, terduga pelaku yang disebut merupakan santri senior, rekan-rekan korban, hingga pihak pengelola pondok pesantren.

"Usai pemeriksaan ini, kami segera melakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka dalam kasus ini, yang dijadwalkan pada Kamis mendatang," ungkap Irjen Pol Kalingga Rendra Raharja, Selasa (7/7/2026).

Tragedi memilukan itu diduga bermula saat tiga santri menjadi korban aksi pembakaran yang dilakukan di lingkungan pondok pesantren. Dari tiga korban, satu santri dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami luka bakar berat. Sementara dua korban lainnya masih menjalani perawatan intensif karena mengalami luka serius di sejumlah bagian tubuh.

Kasus ini langsung menyita perhatian publik dan memicu gelombang kecaman dari masyarakat. Banyak pihak menyoroti pentingnya pengawasan ketat di lingkungan pesantren, terutama terhadap pola relasi senior dan junior, pengawasan asrama, serta mekanisme pelaporan jika terjadi kekerasan.

Selain menelusuri dugaan tindak pidana penganiayaan berat yang menyebabkan kematian, polisi juga mendalami kemungkinan adanya unsur kelalaian pengawasan di lingkungan pondok pesantren.

Sejauh ini, penyidik masih mengumpulkan alat bukti tambahan, termasuk keterangan saksi dan hasil visum korban, untuk memperkuat konstruksi hukum sebelum penetapan tersangka.

Di sisi lain, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) NTB menyatakan akan memperketat pengawasan terhadap pondok pesantren di daerah tersebut. Langkah itu diambil sebagai respons atas tragedi yang dinilai mencoreng dunia pendidikan keagamaan.

Kepala Kanwil Kemenag NTB, Zamroni, menegaskan pihaknya akan memperluas langkah pencegahan agar kasus serupa tidak terulang.

"Kami berkomitmen untuk menggencarkan sosialisasi serta memperketat pengawasan kepada seluruh ponpes di wilayah Nusa Tenggara Barat guna mengantisipasi dan memastikan kasus serupa tidak terulang kembali di masa depan," ujar Zamroni.

Menurutnya, penguatan pengawasan tidak hanya menyasar aspek administrasi kelembagaan pesantren, tetapi juga pola pembinaan santri, pengasuhan di asrama, dan sistem deteksi dini terhadap potensi kekerasan. Kemenag NTB juga mendorong setiap pondok pesantren memiliki mekanisme pengaduan internal yang aman bagi santri, wali santri, maupun tenaga pendidik.

Saat ini, lokasi kejadian telah dipasangi garis polisi untuk kepentingan penyidikan. Aktivitas di dalam pondok pesantren tetap berlangsung dalam pengawasan aparat dan instansi terkait guna menjaga situasi tetap kondusif selama proses hukum berjalan.

Kasus ini menjadi sorotan serius karena NTB dikenal sebagai salah satu daerah dengan jumlah pondok pesantren yang cukup besar. Data Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan ribuan santri menempuh pendidikan di ratusan pesantren yang tersebar di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

Karena itu, peristiwa di Batukliang Utara dinilai menjadi alarm penting bagi semua pihak untuk memperkuat sistem perlindungan anak dan pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan berbasis asrama.

Publik kini menunggu hasil gelar perkara yang akan menentukan pihak yang bertanggung jawab secara pidana dalam tragedi tersebut. Polisi menegaskan penanganan kasus dilakukan secara serius mengingat satu korban meninggal dunia dan dua lainnya masih berjuang menjalani pemulihan.

Editor: Purnawarman

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut