Demo Mahasiswa Ricuh saat Gubernur NTB Tak Temui Massa, Aparat dan Massa Sempat Bersitegang
LOMBOK, iNewsLombok.id - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Rakyat NTB (AMR-NTB) menggelar aksi unjuk rasa di kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat. Aksi yang bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional itu sempat memanas dan diwarnai kericuhan antara massa aksi dan aparat.
Koordinator lapangan aksi, Irawan, menyebut demonstrasi tersebut merupakan bentuk kritik terhadap berbagai persoalan yang dinilai masih membelit masyarakat NTB, khususnya di sektor pendidikan dan kesejahteraan.
"Gubernur NTB anti rakyat," kata Irawan.
Menurut Irawan, sistem pendidikan yang berjalan saat ini dinilai belum berpihak pada rakyat. Ia menilai arah kebijakan pendidikan justru memperkuat ketimpangan sosial.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti rendahnya kesejahteraan guru, persoalan buruh, serta kasus penggusuran lahan yang dinilai belum terselesaikan di era kepemimpinan Lalu Muhamad Iqbal dan Indah Damayanti Putri.
Orator lainnya, Ade Irawan, mendesak agar Gubernur NTB turun langsung menemui mahasiswa. Ia menilai pemerintah daerah kurang responsif terhadap aspirasi publik.
"Setiap kali kami aksi, tidak pernah Gubernur NTB menemui aksi," kata Ade.
Ia juga mengkritik pendekatan keamanan yang dinilai lebih dominan dibanding dialog.
"Setiap mahasiswa gelar aksi pasti dibenturkan dengan aparat," ujarnya.
Dalam aksi tersebut, perwakilan mahasiswa perempuan, Wildan Ummairah, menyampaikan mosi tidak percaya terhadap Gubernur NTB.
"Kami hari ini menyampaikan mosi tidak percaya terhadap Gubernur NTB," kata dia.
Menurutnya, berbagai persoalan mulai dari wilayah Bima hingga Mataram menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap kepemimpinan daerah.
Pendidikan dan Pengangguran NTB
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik, angka partisipasi sekolah di NTB masih menghadapi tantangan, terutama di wilayah terpencil. Selain itu, tingkat pengangguran terbuka di NTB juga masih berada di kisaran 3–4 persen, dengan lulusan perguruan tinggi menjadi salah satu penyumbang yang belum terserap optimal di dunia kerja.
Hal ini memperkuat tuntutan mahasiswa terkait pembukaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas pendidikan.
Tuntutan Mahasiswa: Dari Pendidikan Gratis hingga Infrastruktur
Dalam aksinya, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan nasional dan daerah, di antaranya:
Pendidikan gratis dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi
Kenaikan gaji guru dan tenaga kesehatan
Penghapusan sistem outsourcing
Perluasan lapangan kerja
Perbaikan infrastruktur jalan di wilayah Soromandi, Kabupaten Bima
Evaluasi kinerja pemerintah daerah
Mahasiswa juga mendesak agar pemerintah memprioritaskan anggaran pendidikan serta memastikan pembangunan yang merata di seluruh wilayah NTB.
Editor : Purnawarman