get app
inews
Aa Text
Read Next : Muazzim Akbar Sebut MBG Bukan Program Politik, Tapi Investasi Bangsa

Masjid Kuno Bayan Beleq, Jejak Awal Islam di Lombok Utara

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:09 WIB
header img
Masjid Kuno Bayan Beleq Lombok Utara.ist

LOMBOK, iNewsLombok.id – Masjid Kuno Bayan Beleq dikenal sebagai masjid tertua di Pulau Lombok. Bangunan bersejarah ini berada di Dusun Karang Bajo, Desa Adat Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (Lotara). Hingga kini, masjid tersebut masih berdiri kokoh dan menjadi simbol penting perjalanan sejarah Islam di tanah Sasak.

Berdasarkan informasi yang dilansir dari situs Majelis Adat Sasak, Masjid Bayan Beleq dibangun sekitar abad ke-16, bertepatan dengan masa awal penyebaran Islam di Lombok. Masjid ini didirikan oleh seorang tokoh agama bernama Titi Mas Penghulu, yang diyakini sebagai orang pertama di wilayah Bayan yang memeluk agama Islam.

Keberadaan masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat penyebaran dakwah Islam di wilayah utara Lombok pada masa lampau.

Arsitektur Khas Masjid Awal Nusantara

Masjid Kuno Bayan Beleq memiliki kemiripan dengan sejumlah masjid tua di wilayah lain seperti Rambitan dan Gunung Pujut. Bentuk bangunannya menyerupai bujur sangkar dengan atap tumpang bertingkat serta hiasan puncak berbentuk mahkota.

Model arsitektur seperti ini merupakan ciri khas masjid pada periode awal perkembangan Islam di Indonesia, yang masih kental dengan pengaruh arsitektur tradisional lokal.

Bangunan utama masjid berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi sekitar 8,90 meter. Struktur ini memperlihatkan kesederhanaan desain namun tetap sarat makna spiritual.

Empat Saka Guru dan Filosofi Asalnya

Masjid ini ditopang oleh empat tiang utama atau saka guru yang terbuat dari kayu nangka berbentuk bulat, berdiameter 23 cm dan tinggi sekitar 4,6 meter. Keempat tiang tersebut memiliki asal-usul berbeda dan fungsi simbolik tersendiri:

Tiang Tenggara berasal dari Desa Sagang Sembilok dan difungsikan sebagai tempat khatib.

Tiang Timur didatangkan dari Desa Tereng dan digunakan sebagai tempat lebai.

Tiang Barat Laut berasal dari Desa Senaru dan diperuntukkan bagi Mangku Bayan Timuq.

Tiang Barat Daya berasal dari Desa Semokan dan menjadi tempat penghulu.

Selain saka guru, terdapat 26 tiang keliling dengan tinggi rata-rata 1,25 meter, serta dua tiang mihrab setinggi 80 cm yang memperkuat struktur bangunan.

Keberagaman asal tiang utama ini mencerminkan semangat persatuan masyarakat adat Bayan dalam membangun pusat ibadah bersama.

Mimbar Ukiran Naga dan Nilai Simbolik

Di bagian dalam masjid terdapat sebuah mimbar kayu yang dihiasi ukiran naga Bayan. Motif naga dalam budaya Sasak memiliki makna simbolis sebagai penjaga keseimbangan dan kekuatan spiritual.

Ornamen ini menunjukkan adanya akulturasi budaya antara tradisi lokal dan nilai-nilai Islam yang berkembang pada masa itu. Perpaduan ini menjadi bukti bahwa penyebaran Islam di Lombok berlangsung secara damai dan adaptif terhadap budaya setempat.

Masjid yang Masih Difungsikan dalam Tradisi Adat

Meski telah berusia ratusan tahun, Masjid Kuno Bayan Beleq masih digunakan dalam ritual keagamaan tertentu, terutama oleh masyarakat adat yang memegang tradisi Wetu Telu. Tradisi ini merupakan praktik keagamaan yang memadukan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal.

Setiap perayaan hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Idul Fitri, masyarakat adat Bayan kerap menggelar ritual khusus di area masjid ini.

Potensi Wisata Religi dan Warisan Budaya

Saat ini, Masjid Kuno Bayan Beleq menjadi salah satu destinasi wisata religi unggulan di Lombok Utara. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara datang untuk menyaksikan langsung keunikan arsitektur serta nilai sejarahnya.

Pemerintah daerah bersama tokoh adat setempat terus berupaya menjaga keaslian bangunan tanpa melakukan renovasi berlebihan, guna mempertahankan nilai autentiknya sebagai cagar budaya.

Masjid Kuno Bayan Beleq bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol perjalanan panjang sejarah Islam di Lombok. Dengan arsitektur khas, filosofi saka guru, serta nilai budaya yang menyertainya, masjid ini menjadi warisan tak ternilai bagi masyarakat Sasak dan Indonesia.

Keberadaannya mengajarkan bahwa Islam berkembang di Nusantara melalui pendekatan budaya, harmoni, dan persatuan.

Editor : Purnawarman

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut