Enam Rumah Rusak Parah Akibat Banjir Rob di Ampenan, Tiga Rumah Warga Hanyut
Warga berharap segera mendapat kepastian terkait tempat evakuasi. Sebelumnya, Pemprov NTB telah merencanakan relokasi ke rumah susun, namun keterbatasan daya tampung rusun membuat rencana tersebut belum sepenuhnya terealisasi.
Sebagai solusi darurat, Pemprov NTB bersama Pemerintah Kota Mataram menyiapkan tenda pengungsian sementara. Relokasi bersifat sementara ini akan dilakukan sambil menunggu skema hunian yang lebih permanen.
Gubernur Iqbal menegaskan pentingnya mitigasi bencana pesisir yang terencana, termasuk pemetaan kawasan rawan rob, penguatan tanggul alami, serta edukasi masyarakat.
Di lokasi tampak Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Mataram dan Provinsi NTB, Dinas Sosial, Baznas NTB, unsur TNI-Polri, relawan kemanusiaan, serta warga setempat bahu-membahu melakukan penanganan.
Usai meninjau area terdampak, Gubernur juga berbincang santai dengan warga sambil minum kopi, memberikan semangat dan dukungan moral.
Berdasarkan data BPBD, kawasan pesisir Ampenan termasuk zona rawan banjir rob tahunan akibat kombinasi pasang laut, angin barat, dan perubahan garis pantai.
Dalam jangka panjang, Pemprov NTB berencana menyusun masterplan penataan kawasan pesisir yang mencakup relokasi permanen, pembangunan sabuk hijau mangrove, serta sistem peringatan dini berbasis komunitas.
BMKG memprediksi hujan lebat disertai angin kencang masih berpotensi terjadi hingga 26 Januari 2026. Warga pesisir diimbau tetap waspada dan menghindari aktivitas di area pantai saat gelombang tinggi.
“Kita jaga alam, alam jaga kita.”
Editor : Purnawarman