Tiga Siswa Terluka, DPR RI Minta Kemendikdasmen Segera Bangun Ulang Gedung SMA 7 Mataram yang Ambruk
LOMBOK, iNewsLombok.id – Insiden robohnya tiga ruang kelas di SMA Negeri 7 Mataram pada Selasa (19/5/2026) yang menyebabkan tiga siswa mengalami luka-luka mendapat perhatian serius dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani.
Politikus yang akrab disapa Lalu Ari itu memastikan pihaknya telah mengusulkan percepatan revitalisasi gedung sekolah kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Proses pembangunan ulang ditargetkan mulai dikerjakan pada Juni 2026 mendatang.
“Saya sudah usulkan agar segera ditindaklanjuti oleh Kemendikdasmen. InsyaAllah bulan depan (Juni.red) dimulai,” tegasnya, Minggu (24/5/2026).
Ketua DPW PKB NTB tersebut menilai kondisi bangunan sekolah memang sudah sangat tua dan membutuhkan penanganan serius. Menurutnya, usia bangunan yang telah melampaui dua dekade membuat revitalisasi tidak bisa lagi ditunda.
“Kami akan minta Kemendikdasmen untuk merevitalisasi sekolah yang ambruk. Sudah saatnya untuk revitalisasi,” ujarnya.
Keselamatan Siswa Jadi Prioritas
Lalu Ari menegaskan seluruh pemangku kebijakan harus menjadikan keselamatan dan kenyamanan peserta didik sebagai prioritas utama. Ia tidak ingin insiden serupa kembali terjadi di sekolah lain di NTB.
“Kita semua para pemangku kebijakan harus menjamin keamanan, kenyamanan, dan kondusifitas sekolah agar proses belajar mengajar berjalan sesuai dengan yang diharapkan,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pertemuan awal terkait rencana pembangunan kembali gedung sekolah telah dilakukan bersama pihak terkait. Namun, nominal anggaran revitalisasi masih menunggu hasil perencanaan teknis dari sekolah dan instansi terkait.
“Pertemuan (dengan Dinas Dikbud Provinsi) sudah (dilakukan). Besaran anggaran masih menunggu perencanaan teknis, nanti disesuaikan dengan perencanaan dari pihak sekolah,” jelasnya.
Banyak Gedung Sekolah di NTB Perlu Revitalisasi
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB beberapa tahun terakhir, masih terdapat sejumlah sekolah dengan kondisi bangunan rusak ringan hingga berat, terutama sekolah yang dibangun pada awal tahun 2000-an atau sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah maupun pusat untuk memastikan keamanan fasilitas pendidikan.
Pengamat pendidikan menilai revitalisasi sekolah tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga berkaitan dengan peningkatan kualitas lingkungan belajar siswa.
Selain ruang kelas yang aman, sekolah juga membutuhkan fasilitas pendukung seperti laboratorium, sanitasi layak, serta sistem mitigasi bencana mengingat NTB termasuk daerah rawan gempa.
Insiden di SMA 7 Mataram pun diharapkan menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap kondisi bangunan sekolah di NTB agar kejadian serupa tidak terjadi.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
