TEHERAN, iNewsLombok.id - Dunia internasional diguncang krisis besar setelah Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penutupan total Selat Hormuz pada Minggu (1/3/2026). Kebijakan ekstrem ini diambil menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Langkah tersebut langsung memicu ketegangan geopolitik tingkat tinggi dan dikhawatirkan menjadi awal krisis energi global terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Blokade Total Jalur Energi Dunia
Dalam dekret militer yang diumumkan melalui televisi pemerintah Iran, Teheran melarang seluruh kapal—baik tanker minyak maupun kapal kargo komersial—melintasi Selat Hormuz hingga waktu yang tidak ditentukan.
"Kami telah memperingatkan bahwa jika keamanan kami diganggu, maka tidak akan ada seorang pun yang bisa menikmati keamanan di kawasan ini. Selat Hormuz kini resmi berada di bawah blokade penuh hingga perintah lebih lanjut," tegas pernyataan militer Iran.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah mengerahkan ranjau laut, sistem rudal pertahanan pesisir, serta drone tempur di sepanjang jalur perairan tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Sekitar 20–30 persen pasokan minyak mentah global setiap hari melewati jalur sempit ini, terutama dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Irak.
Harga Minyak Terancam Pecah Rekor
Penutupan Selat Hormuz berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak mentah hingga melampaui rekor tertinggi sepanjang sejarah. Analis energi memprediksi harga minyak bisa menembus di atas USD 200 per barel jika blokade berlangsung lebih dari beberapa hari.
Selain minyak, jalur ini juga menjadi rute penting pengiriman gas alam cair (LNG) dari Qatar. Gangguan distribusi LNG akan memperparah krisis energi di Eropa dan Asia yang masih dalam tahap pemulihan ekonomi.
Bursa saham global dilaporkan mulai mengalami tekanan hebat. Indeks-indeks utama di Asia dan Eropa melemah tajam akibat kekhawatiran konflik militer terbuka antara Iran dan armada Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Ketegangan Militer Meningkat
Laporan intelijen menyebutkan kapal perang Iran telah mengambil posisi siaga tempur di sepanjang pesisir. Sejumlah kapal tanker yang tengah melintas terpaksa memutar balik atau berlindung di pelabuhan terdekat untuk menghindari risiko serangan.
Amerika Serikat sendiri memiliki Armada Kelima Angkatan Laut yang berbasis di Bahrain, yang selama ini bertugas mengamankan jalur pelayaran di Teluk Persia. Jika konfrontasi terjadi, bentrokan laut terbuka menjadi sangat mungkin.
Situasi ini dinilai bukan sekadar tekanan diplomatik, melainkan eskalasi serius yang dapat menyeret kawasan ke konflik berskala luas.
Dampak Global yang Lebih Luas
Selain ancaman terhadap pasokan energi, penutupan Selat Hormuz dapat memicu:
Lonjakan inflasi global akibat kenaikan harga energi
Gangguan rantai pasok internasional
Melemahnya nilai tukar mata uang negara berkembang
Ancaman resesi di negara-negara pengimpor minyak
Sejumlah negara telah menyerukan de-eskalasi dan mendorong dialog melalui Dewan Keamanan PBB guna mencegah konflik berkembang menjadi perang regional atau bahkan global.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
