Krisis Pangan Mengintai NTB, Rachmat Hidayat Minta Pemerintah Kembali ke Dasar

Purnawarman
Petani di Lombok saat menanam padi. Purnawarman/iNewsLombok.id

LOMBOK, iNewsLombok.id - Ketua DPD PDI Perjuangan Nusa Tenggara Barat (NTB) sekaligus Anggota Komisi I DPR RI, H. Rachmat Hidayat, menyampaikan peringatan serius terkait kondisi ketahanan pangan dan penurunan kualitas lahan pertanian di NTB.

Ia menilai situasi saat ini sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan akibat lemahnya pengelolaan sektor pertanian.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah adanya arahan dari Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengenai potensi krisis pangan nasional.

Menurut Rachmat, kondisi di lapangan menunjukkan adanya kerusakan ekosistem yang terus terjadi akibat eksploitasi lahan tanpa jeda.

"Tanah kita sekarang sudah lelah. Pola tanam padi-padi-padi tanpa rotasi membuat tanah kehilangan kemampuan memulihkan diri. Dulu kita mengenal palawija untuk memberi jeda, sekarang semua berubah karena desakan ekonomi," ujar Rachmat saat memberikan refleksi di Mataram, Kamis (16/4/2026).

Fungsi Penyuluhan Dinilai Melemah

Rachmat juga menyoroti melemahnya peran negara di tingkat petani, khususnya melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Ia menyebut banyak fasilitas penyuluhan yang tidak lagi berfungsi optimal.

"Datanglah ke Kotaraja di Lombok Timur atau ke Narmada di Lombok Barat. Banyak balai penyuluhan yang rusak dan fungsinya hilang. Penyuluh ada di atas kertas, tapi tidak hadir di tengah sawah untuk membimbing petani," tegasnya.

Menurutnya, kondisi ini membuat petani harus mengambil keputusan sendiri tanpa arahan yang jelas, sehingga cenderung berorientasi pada kebutuhan jangka pendek. Ia juga mengkritisi kebijakan instan yang melibatkan sektor di luar pertanian, karena dinilai tidak menyelesaikan persoalan mendasar.

Dampak Kerusakan Lingkungan di Sumbawa

Selain itu, Rachmat mencontohkan kondisi di Pulau Sumbawa sebagai dampak nyata dari pengelolaan lahan yang tidak terkontrol. Pembukaan hutan secara besar-besaran untuk penanaman jagung disebut telah memicu bencana banjir yang terjadi berulang setiap tahun.

"Para petani ulet kita dari Bima membuka lahan di Sumbawa, tapi karena tanpa pengaturan, kawasan hutan dibabat untuk jagung. Hasilnya? Banjir datang setiap tahun. Alam mulai menjawab," katanya.

Empat Langkah Mendesak untuk Ketahanan Pangan

Dalam upaya mencegah krisis pangan yang lebih luas, Rachmat mendesak pemerintah untuk kembali pada langkah-langkah fundamental. Ia merinci empat poin utama yang perlu segera dilakukan:

Mengaktifkan kembali peran penyuluh pertanian sebagai pendamping utama petani

Menata ulang pola tanam melalui rotasi dan diversifikasi pangan

Melindungi lahan produktif dari alih fungsi yang tidak terkendali

Mendorong regenerasi petani agar sektor ini menarik bagi generasi muda

Ia menegaskan bahwa persoalan pangan bukan sekadar ekonomi, melainkan menyangkut kedaulatan negara.

"Persoalan pangan adalah persoalan kedaulatan. Kita tidak boleh terlena dengan kelimpahan semu di pasar hari ini. Jika fondasinya rapuh, suatu saat uang mungkin ada, tapi makanan tidak tersedia," ungkapnya.

Editor : Purnawarman

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network