Makna ini diperkuat oleh hadis Abu Hurairah ra:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِعَزِيمَةٍ، ثُمَّ يَقُولُ: «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» (رواه أبو داود)
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw menganjurkan untuk melaksanakan qiyam Ramadan tanpa memerintahkannya dengan perintah yang keras. Kemudian beliau bersabda: “Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Dawud)
Kata kunci penting dalam hadis ini adalah “tanpa perintah yang keras”, yang menunjukkan bahwa Tarawih bersifat anjuran kuat, bukan kewajiban syariat.
Nabi Saw Tidak Setiap Malam Tarawih Berjamaah
Hadis Abu Dzar ra menggambarkan bahwa Tarawih berjamaah tidak dijadikan kebiasaan harian oleh Nabi saw:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ، فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنْ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ… «إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ» (رواه أبو داود)
“Diriwayatkan dari Abu Dzar ra, ia berkata: Kami berpuasa bersama Rasulullah saw di bulan Ramadan. Beliau tidak salat malam bersama kami hingga tersisa tujuh malam… Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang jika salat bersama imam sampai selesai, maka dicatat baginya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan dua hal penting: Tarawih berjamaah diperbolehkan, dan mengikuti imam sampai selesai memiliki keutamaan pahala yang besar.
Jumlah Rakaat Tarawih Nabi adalah 11 Rakaat
Terkait jumlah rakaat, ‘Aisyah ra memberikan keterangan yang sangat jelas:
مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً (رواه البخاري ومسلم)
“Rasulullah saw tidak pernah menambah salat malamnya, baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya, lebih dari sebelas rakaat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar kuat bahwa praktik salat malam Nabi saw, termasuk Tarawih dan witir, berjumlah 11 rakaat.
Waktu Paling Utama Salat Tarawih
Salat Tarawih yang paling utama (afdhal) dikerjakan pada sepertiga malam terakhir, yakni menjelang sahur. Pada waktu inilah suasana lebih tenang dan kekhusyukan lebih mudah diraih.
Namun secara praktik, Tarawih juga boleh dikerjakan setelah salat Isya. Bahkan, banyak ulama menganjurkan Tarawih di awal malam untuk memudahkan jamaah, khususnya lansia, anak-anak, dan pekerja.
Sejarah Tarawih di Masa Umar bin Khattab
Setelah wafatnya Nabi saw, praktik Tarawih berjamaah mulai dihidupkan kembali secara rutin pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Umar melihat jamaah salat malam berpencar, lalu mengumpulkan mereka di bawah satu imam, Ubay bin Ka‘ab.
Sejak saat itu, Tarawih berjamaah menjadi tradisi yang terus berlangsung hingga sekarang di dunia Islam, dengan jumlah rakaat yang bervariasi sesuai ijtihad para ulama, seperti 11, 13, atau 20 rakaat.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
