Sebagai Tenaga Ahli Madya, Noe Letto tidak bekerja secara individual dalam memberikan masukan kepada Menteri Pertahanan. Seluruh pemikiran, kajian, dan rekomendasinya akan disampaikan melalui mekanisme kolektif Dewan Pertahanan Nasional, sesuai dengan tata kerja organisasi yang berlaku.
Hasil kajian para tenaga ahli tersebut nantinya akan menjadi bahan pertimbangan strategis sebelum pemerintah mengambil keputusan penting terkait kebijakan pertahanan Indonesia, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Keterlibatan Noe di DPN dinilai strategis karena mampu menghadirkan pendekatan kebudayaan, komunikasi publik, dan pemahaman sosial dalam membaca tantangan pertahanan modern, seperti perang informasi, disrupsi digital, hingga dinamika geopolitik berbasis identitas dan opini publik.
Selain Noe Letto, jajaran tenaga ahli DPN juga diisi oleh Frank Alexander Hutapea, putra sulung pengacara kondang Hotman Paris Hutapea. Frank dilantik bersama 10 pakar lainnya yang berasal dari beragam latar belakang keilmuan, mulai dari ekonomi, hukum, geopolitik, hingga kebijakan publik.
Masuknya figur-figur multidisipliner ini menunjukkan arah baru Dewan Pertahanan Nasional yang semakin menekankan pendekatan komprehensif dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan negara di tengah tantangan global yang terus berkembang.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
